KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran masih menunggu respons resmi Amerika Serikat (AS) atas proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menghentikan pertempuran di kawasan Timur Tengah. Proposal tersebut disampaikan melalui mediator Qatar di tengah konflik yang telah mengganggu jalur pelayaran minyak global. Proposal Iran disampaikan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Teheran menyatakan kesepakatan tersebut dapat membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan di kawasan dalam waktu tujuh hari. Namun, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal tersebut. Laporan itu mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Menurut laporan tersebut, Trump secara pribadi masih skeptis Iran akan memenuhi tuntutan AS. Trump juga disebut memberi tahu stafnya bahwa kampanye pengeboman kembali kemungkinan dilakukan setelah pemilihan umum sela Kongres AS pada November.
Baca Juga: FutureChina Global Forum 2026: Arah China di Era AI dan Perluasan Pasar di ASEAN Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan pembicaraan dengan Iran melalui para mediator berlangsung "positif dan konstruktif".
Iran Tolak Tekanan dan Paksaan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan proposal tersebut akan memulai hitung mundur selama tujuh hari menuju pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus penghentian sementara pertempuran di kawasan. "Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya sekarang sudah siap," kata Araqchi kepada wartawan di PBB. Menurut Araqchi, apabila AS menyetujui proposal tersebut, pihak-pihak yang bertikai dapat memulai pembicaraan yang lebih luas mengenai "isu-isu yang disepakati bersama". Pembicaraan tersebut berpotensi mencakup program nuklir Iran. Trump sebelumnya menegaskan bahwa Teheran tidak boleh memperoleh senjata nuklir. Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran tidak akan memberikan fleksibilitas terkait program nuklirnya meskipun AS menerima proposal perdamaian tersebut. Iran disebut tidak akan memberikan konsesi terkait hak-haknya, termasuk dalam pengayaan uranium maupun pengiriman uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan program CBS "Face the Nation", mengatakan Teheran siap melakukan pembicaraan mengenai program nuklir dan berbagai isu lainnya. Namun, Iran menolak tekanan dan paksaan. "Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa Iran telah menyepakati bahwa "kami tidak seharusnya mengembangkan senjata nuklir". Araqchi mengatakan Iran telah mengajukan rencana untuk menghentikan permusuhan di seluruh front, termasuk di Lebanon. Sebagai imbalannya, AS diminta mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, membebaskan dana Iran yang dibekukan, serta mencabut sanksi minyak terhadap negara tersebut.
Baca Juga: Koalisi Saudi Klaim Cegat Rudal dan Drone Houthi Konflik Ganggu Arus Minyak Global
Upaya diplomasi sebelumnya belum berhasil mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel. Sejak saat itu, konflik berlangsung dalam pola jeda pertempuran yang kemudian diikuti serangan kembali. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, melemahkan kekuatan konvensional Iran, sekaligus memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut. Iran dan sekutunya kemudian memperluas dampak konflik ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Iran, yang menguasai Selat Hormuz bersama Oman, telah menyerang sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk menggunakan drone dan rudal. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman juga menyerang kepentingan Arab Saudi. Sementara itu, milisi yang berafiliasi dengan Iran di Irak dituding berada di balik serangan terhadap jaringan pipa yang sempat mengurangi pasokan minyak Saudi ke pasar global. Di Lebanon, Hizbullah yang didukung Iran juga terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Israel. Selat Hormuz menjadi titik strategis dalam konflik karena merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut telah menghambat arus minyak dan memberikan tekanan terhadap perekonomian global.
Iran Libatkan Arab Saudi
Araqchi juga telah memberikan penjelasan kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengenai kesepahaman Iran dan Oman terkait jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik semakin meluas dan mendorong negara-negara di kawasan untuk memperkuat koordinasi keamanan. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi juga menghadapi serangan kelompok Houthi yang memiliki hubungan dengan Iran. Rudal Houthi bahkan dilaporkan telah menyerang wilayah Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Sabtu pagi mengatakan telah mencegat dua rudal balistik yang diluncurkan Houthi menuju Khamis Mushait serta dua drone yang mengarah ke Riyadh. Kelompok Houthi menguasai wilayah terpadat di Yaman dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut. Kelompok itu telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi setelah menyatakan blokade laut terhadap Riyadh pada Juli.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Melemah 2%, AS dan Iran Menjajaki Jalan Keluar dari Perang Serangan tersebut menyasar kapal-kapal Saudi di Laut Merah serta sejumlah kota, infrastruktur energi dan jalur pelayaran. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap pasokan minyak global akibat perang AS-Israel dengan Iran. Selain Selat Hormuz, jalur Laut Merah menjadi rute alternatif penting bagi ekspor energi dari kawasan Teluk.
Arab Saudi Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Arab Saudi juga memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitranya.
Pejabat pertahanan Turki dan Pakistan, yang merupakan mitra Arab Saudi dalam pakta pertahanan bersama, bertemu di Riyadh pada Jumat untuk membahas situasi keamanan, kerja sama intelijen, koordinasi militer, serta integrasi kekuatan. Pertemuan tersebut berlangsung sehari setelah menteri luar negeri Arab Saudi, Pakistan dan Turki bertemu dalam kerangka Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah. Sementara itu, eskalasi kekerasan di Yaman turut memunculkan persoalan kemanusiaan baru. Badan anak-anak PBB, UNICEF, pada Jumat melaporkan peningkatan kasus kekurangan gizi akut pada anak-anak di negara tersebut. Perkembangan diplomasi antara Iran dan AS kini menjadi perhatian karena hasil pembicaraan tersebut berpotensi menentukan kelanjutan konflik, akses pelayaran melalui Selat Hormuz, serta stabilitas pasokan energi global.