Iran Tegas Tolak Proposal Damai Donald Trump, Siap Sambut Serangan Amerika Serikat
Senin, 06 April 2026 23:30 WIB
Oleh: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - DUBAI/WASHINGTON. Kebuntuan diplomatik memperparah krisis di Timur Tengah. Iran secara tegas menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz di bawah kerangka gencatan senjata sementara. Teheran bersikeras bahwa perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel harus diakhiri secara permanen, bukan sekadar jeda singkat. Berdasarkan laporan kantor berita IRNA, Senin (6/4), Iran telah mengirimkan respons atas proposal AS melalui Pakistan.
Baca Juga: AS Siapkan Serangan Besar Selasa, Iran Ancam Balasan Dahsyat Dalam dokumen tersebut, Iran menyatakan penolakan terhadap gencatan senjata sementara dan menyodorkan 10 klausul syarat untuk mengakhiri perang secara total. Syarat tersebut mencakup penghentian konflik regional, protokol keamanan jalur navigasi Hormuz, pencabutan sanksi, hingga bantuan rekonstruksi. Namun, tawaran balik Teheran ini langsung mentah di tangan Presiden AS Donald Trump. Ia secara resmi menolak proposal Iran tersebut dan menegaskan bahwa tenggat waktu (deadline) Selasa malam adalah harga mati. Trump mengancam akan menghujankan "neraka" ke Teheran jika jalur energi global tersebut tidak dibuka hingga Selasa (7/4) pukul 20.00 EDT. "Mereka (Iran) membuat proposal, dan itu langkah signifikan, tapi tidak cukup baik," tegas Trump di hadapan wartawan saat acara Paskah di Gedung Putih.
Selat Hormuz Mulai Dibuka! Tapi Iran Kirim Ancaman!
Blokade Iran di Selat Hormuz sejak Februari lalu telah mencekik pasokan seperlima minyak dan gas alam dunia. Dampaknya nyata: harga minyak mentah Brent terkerek naik 0,5% ke level US$ 109,60 per barel pada Senin sore. Upaya mediasi yang dilakukan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir—yang berkomunikasi semalam suntuk dengan Wapres AS JD Vance dan Menlu Iran Abbas Araqchi—belum membuahkan titik temu. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa penolakan mereka terhadap tuntutan AS (termasuk rencana 15 poin sebelumnya) adalah bentuk kepercayaan diri dalam mempertahankan kedaulatan. Baca Juga: Donald Trump Siap Uji Kemampuan Diplomasi di Asia, Fokus Hadapi Xi Jinping
Eskalasi Militer "Epic Fury"
Gedung Putih memastikan operasi militer Epic Fury terus berlanjut. Melalui Truth Social, Trump bahkan mengancam akan meluaskan target serangan ke infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tetap bersikukuh menutup Hormuz melewati tenggat waktu. Di darat, Israel mengonfirmasi telah melenyapkan Kepala Intelijen Garda Revolusi (IRGC), Majid Khademi. Serangan udara gabungan juga melumpuhkan pusat data di Sharif University yang menyokong platform AI nasional Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan memburu pemimpin Iran satu per satu sembari terus menggempur titik-titik ekonomi seperti kompleks petrokimia South Pars dan bandara-bandara strategis.
Hingga pekan kelima konflik, total korban jiwa telah menembus angka ribuan. Di pihak Iran, 3.540 orang dilaporkan tewas, termasuk 244 anak-anak. Lebanon mencatat 1.461 kematian akibat serangan ke basis Hezbollah. Sementara itu, 13 personel militer AS gugur, dan korban jiwa di Israel mencapai 23 orang menyusul hujan roket dari Lebanon dan Iran yang menghantam Haifa dan wilayah lainnya. Tonton: Jerman Siaga Perang! Pria Usia 17–45 Kini Wajib Izin Militer!