KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran kembali menegaskan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon dan mendesak Israel untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Sikap tersebut menambah kompleksitas upaya mencapai kesepakatan sementara guna mengakhiri konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Teheran menjadikan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sebagai salah satu syarat dalam setiap perjanjian damai dengan Washington. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengakhiri perang regional yang kini memasuki bulan keempat sekaligus membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Gelombang terbaru pertempuran antara Hizbullah dan Israel pecah pada awal Maret, dua hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Hizbullah menyatakan aksinya dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa konflik tidak akan berakhir tanpa penyelesaian di Lebanon. "Perang ini hanya akan berakhir jika perang di Lebanon juga berakhir," ujar Araqchi dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen pada Kamis (4/6/2026) malam.
Baca Juga: Ekonomi India: Kejutan Pertumbuhan 7,8% di Tengah Konflik Timur Tengah Ia menambahkan bahwa penghentian perang di Lebanon harus disertai dengan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka kuasai. "Berakhirnya perang di Lebanon harus disertai dengan penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah yang telah mereka duduki," kata Araqchi. Pernyataan tersebut muncul setelah pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran di negara itu. Kesepakatan tersebut tidak mencakup penarikan pasukan Israel, sementara Hizbullah tidak dilibatkan dalam proses negosiasi. Israel hingga kini masih melanjutkan serangan di wilayah Lebanon selatan dan menegaskan bahwa pasukannya tidak akan menarik diri maupun menghentikan operasi militer di negara tersebut.
Iran Tegaskan Komitmen terhadap Hizbullah
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan Hizbullah telah memberikan pengorbanan besar selama perang berlangsung dan tetap menjadi sekutu strategis Teheran. "Hizbullah telah melakukan pengorbanan besar dalam perang terakhir dan mereka adalah sekutu kami. Karena itu kami mendukung Hizbullah dan tetap berkomitmen penuh terhadap kewajiban kami kepada mereka," ujarnya seperti dikutip kantor berita semi-resmi Mehr. Rezaei juga memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan ancaman untuk kembali menyerang ibu kota Lebanon, Beirut. "Hari ini kami kembali memperingatkan rezim yang jahat ini untuk meninggalkan Lebanon. Mereka harus memahami bahwa Lebanon akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kesepakatan maupun gencatan senjata." Di Washington, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kemajuan sedang dicapai di Lebanon dan negara tersebut layak mendapatkan perdamaian. "Ini sudah berlangsung sangat lama," kata Trump kepada wartawan.
Baca Juga: SpaceX Gagal Masuk Cepat Indeks S&P 500 Meski Cetak IPO Terbesar Dunia Konflik Regional Masih Berkobar
Meski berbagai gencatan senjata telah diupayakan AS, pertempuran masih terjadi di sejumlah wilayah Timur Tengah. Selain Lebanon, warga Gaza, Israel utara, dan Kuwait juga mengalami serangan dalam sepekan terakhir. Trump sebelumnya menyebut gencatan senjata yang disepakati lebih berupa "penembakan dengan intensitas yang lebih moderat" dibanding penghentian total pertempuran. Pada Rabu (3/6), pasukan Iran dan AS saling melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia. Bentrokan tersebut menjadi salah satu yang paling intens sejak awal April ketika gencatan senjata menghentikan konflik berskala besar. Sementara itu pada Jumat (5/6), dugaan serangan drone menyebabkan penghentian sementara aktivitas pemuatan minyak di terminal Mina al Fahal, Oman, setelah terjadi ledakan. Operasi kemudian kembali berjalan normal.
Selat Hormuz Jadi Kunci Negosiasi
Sejak perang antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari, Iran meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Teheran juga secara signifikan membatasi aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Volume perdagangan melalui jalur tersebut masih jauh di bawah tingkat normal. Sebelum konflik, Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Perang ini mendorong kenaikan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok berbagai komoditas. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar dan transportasi berisiko mendorong jutaan orang semakin dekat ke kondisi rawan pangan. AS dan Iran saat ini masih terlibat dalam perundingan tidak langsung untuk mencapai kesepakatan sementara guna menghentikan perang. Namun sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran, akan dibahas lebih lanjut dalam tahap negosiasi berikutnya.
Baca Juga: China Akan Memperketat Pengawasan Dana Investasi Swasta Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menginginkan akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyak, keringanan sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhannya, serta pengaruh lebih besar atas Selat Hormuz.
Trump: AS Tidak Membutuhkan Kesepakatan untuk Mengambil Uranium Iran
Trump, yang menyatakan prioritas utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, mengatakan Washington tidak membutuhkan kesepakatan dengan Teheran untuk mengambil uranium yang telah diperkaya dari negara tersebut.
"Saya rasa mereka tidak bisa menghentikan kami jika kami menginginkannya, tetapi tidak ada alasan untuk melakukan itu. Semuanya sudah terkubur," ujar Trump di Ruang Oval. Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Wakil Ketua Parlemen Iran Hamid-Reza Haji Babaei mengatakan pengayaan uranium merupakan hak Iran dan menilai Trump gagal memahami kekuatan strategis utama negara tersebut. "Bom atom paling kuat milik Iran adalah Selat Hormuz," tegas Haji Babaei.