Iran Tegaskan Tetap Kuasai Selat Hormuz, Bantah Minta Lanjutkan Negosiasi dengan AS



KONTAN.CO.ID – DUBAI. Iran menegaskan masih menguasai Selat Hormuz dan tidak meminta dimulainya kembali perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan kampanye pengeboman yang telah berlangsung selama dua pekan.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (27/7/2026), sehari setelah Trump memutuskan menghentikan operasi militer yang selama 13 malam berturut-turut menargetkan Iran. Serangan itu memicu balasan dari Teheran yang menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran menyatakan akan menghentikan serangan balasan selama Amerika Serikat mempertahankan penghentian operasi militernya.


Meredanya konflik langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent, yang pekan lalu sempat menembus level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, anjlok lebih dari 8% pada perdagangan Senin pagi menjadi di bawah US$ 89 per barel.

Penurunan tersebut dipicu harapan bahwa pasokan minyak global yang sempat terganggu dapat kembali mengalir normal.

Baca Juga: Rapor 18 Bulan Donald Trump: AI Bersinar, Inflasi dan Biaya Hidup Masih Membebani

Ketegangan Masih Terjadi Meski Serangan Berhenti

Meski kedua pihak menghentikan serangan langsung, situasi di kawasan masih belum sepenuhnya stabil.

Yordania melaporkan telah menembak jatuh dua pesawat nirawak (drone), sementara sumber keamanan Irak menyebut drone menyerang markas kelompok oposisi Kurdi Iran di wilayah utara Irak. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kedua insiden tersebut.

Menurut seorang pejabat AS dan sejumlah laporan media Amerika Serikat, keputusan Trump menghentikan operasi militer diambil setelah mendapat rekomendasi dari para petinggi militer bahwa kampanye pengeboman telah mencapai batas efektivitasnya.

Pejabat tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa para komandan militer menilai target strategis mulai menipis. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine juga disebut menyampaikan kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan amunisi pertahanan udara.

Iran Bantah Meminta Negosiasi dengan AS

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, sebelumnya mengatakan Trump menghentikan operasi militer untuk membuka ruang bagi perundingan.

Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan sejumlah pejabat AS bahkan menyebut Iran sedang "memohon untuk mencapai kesepakatan."

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah klaim tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Senin.

Baghaei menegaskan Iran tidak pernah meminta dimulainya kembali perundingan damai dengan Amerika Serikat.

Ia mengakui komunikasi antara kedua negara masih berlangsung melalui mediator dan Iran tetap membuka jalur diplomasi.

Namun, ia menegaskan, "Laporan mengenai Iran yang meminta negosiasi dengan Amerika Serikat adalah rekayasa. Hal itu bukan bagian dari karakter kami."

Baca Juga: Kim Jong Un Peringati Hari Gencatan Senjata Perang Korea, Ju Ae Tampil Mendampingi

Iran Klaim Tetap Mengendalikan Selat Hormuz

Pemerintah Iran juga menegaskan masih menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Sejumlah media pemerintah Iran mengutip sumber yang disebut "terinformasi" yang menyatakan bahwa pada Senin pagi Iran memaksa enam kapal yang dianggap melanggar aturan untuk berbalik arah setelah mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Sumber tersebut juga menyebut salah satu kapal mengalami kecelakaan.

"Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, jalur pelayaran di Selat Hormuz adalah jalur yang ditetapkan oleh Iran. Jalur lainnya telah terkontaminasi dan tidak memiliki jalan keluar," demikian dikutip media pemerintah Iran.

Konflik terbaru bermula setelah Amerika Serikat melancarkan kembali serangan udara terhadap Iran sebagai respons atas tindakan Teheran yang menembaki kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang didukung Washington, yakni rute yang berada dekat pesisir Oman.

Iran menegaskan kapal hanya boleh melintas melalui jalur yang berada lebih dekat ke pantainya, yang berada di bawah kendali Teheran. Iran juga berencana mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi jalur tersebut.

Konflik Berdampak pada Infrastruktur dan Pasokan Energi

Selama dua pekan operasi militer AS berlangsung, puluhan orang dilaporkan tewas di Iran. Serangan juga menghancurkan sejumlah jembatan, terowongan di wilayah selatan Iran, serta berbagai sasaran militer.

Di sisi lain, empat personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Arab tetangga.

Iran juga menyerang infrastruktur sipil di sejumlah negara Teluk sebagai bentuk balasan atas serangan AS terhadap sasaran sipil, menurut klaim Teheran.

Pekan lalu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengancam akan memperluas gangguan terhadap pasokan minyak dunia dengan mengumumkan blokade terhadap industri minyak Arab Saudi di Laut Merah. Ancaman tersebut sempat mendorong kenaikan harga minyak global.

Baca Juga: Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan

Masa Depan Negosiasi Masih Belum Jelas

Penghentian operasi militer AS belum memberikan kepastian mengenai langkah Washington selanjutnya untuk mencapai tujuan Trump, yakni mengakhiri dominasi Iran atas Selat Hormuz.

Sebelumnya, Washington dan Teheran telah menyepakati kerangka perundingan yang dijadwalkan berlangsung sebelum akhir Agustus guna membahas isu-isu utama, termasuk program nuklir Iran.

Namun, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai isi nota kesepahaman terkait Selat Hormuz. Washington menilai dokumen tersebut mewajibkan Iran memberikan kebebasan pelayaran, sedangkan Teheran berpendapat nota itu justru memberikan kewenangan kepada Iran untuk mengawasi lalu lintas kapal.

Iran juga berupaya memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz melalui perjanjian dengan Oman yang menguasai pesisir di seberang selat tersebut. Delegasi senior Oman telah berkunjung ke Teheran pada akhir pekan untuk membahas isu tersebut, dan menurut Baghaei, pembicaraan berlangsung positif.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump di Washington pada awal pekan ini. Netanyahu, yang melancarkan perang bersama Trump pada Februari lalu, tidak ikut terlibat dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik.