Iran Tolak Perdamaian Baru dengan AS, Harga Minyak Melonjak Lagi di Awal Pekan



KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak, dolar AS menguat, dan kontrak berjangka saham melemah pada Senin (20/4/2026), ketika investor menghadapi sinyal yang saling bertentangan terkait perang Iran serta kabar bahwa Selat Hormuz kembali ditutup.

Data Reuters menunjukkan, pada awal perdagangan Asia, kontrak berjangka minyak Brent naik sekitar 7% menjadi US$96,85 per barel, sementara kontrak berjangka indeks S&P 500 turun sekitar 0,9%.

Euro melemah 0,3% ke level US$ 1,1735 dan yen turun sekitar 0,2% ke 158,95 per dolar.


Iran menolak perundingan damai baru dengan Amerika Serikat, menurut kantor berita negara Iran pada Minggu, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengirim utusan untuk pembicaraan di Pakistan dan akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika negara tersebut tidak menerima syaratnya.

Ketegangan juga meningkat setelah AS menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. 

Penguatan dolar terjadi setelah sebelumnya mata uang tersebut melemah pada Jumat, ketika pengumuman Iran bahwa selat akan dibuka mendorong kenaikan saham dan penurunan harga minyak.

“Meski jelas bahwa kabar penutupan kembali Selat Hormuz bukan hal baik, serangan terhadap kapal bukan hal baik, dan ancaman Trump terhadap infrastruktur Iran juga bukan hal baik, pasar tampaknya melihat situasi ini sebagai: pada akhirnya kedua pihak masih berbicara,” kata Michael Brown, ahli strategi riset senior di Pepperstone, London.

Baca Juga: 10 Mata Uang Terlemah di Dunia 2026, Rupiah Masuk dalam Daftar

“Dari perspektif saham, kemungkinan kita akan melihat sebagian besar penguatan yang terjadi pada Jumat terkoreksi kembali, yang dalam retrospeksi terlihat sebagai pasar yang sedikit terlalu optimistis.”

Pengumuman Iran untuk membuka Selat Hormuz sebelumnya sempat mendorong reli saham dan obligasi pada Jumat serta menekan harga minyak, karena investor bertaruh pada berakhirnya perang yang telah berlangsung tujuh minggu dan menutup jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas global tersebut.

“Sekarang setelah Hormuz kembali ditutup setelah sekitar 12 jam dibuka, kemungkinan besar sebagian besar pergerakan yang kita lihat pada Jumat (di obligasi) akan berbalik,” kata Brown.

“Jika benar Iran tidak akan menghadiri perundingan, maka reaksi pasar akan menjadi jauh lebih menghindari risiko dibandingkan yang kita lihat saat ini.”

Pasar Sempat Reli Pekan Lalu

Indeks saham Wall Street sempat menyentuh rekor tertinggi pada Jumat, sementara obligasi, yang masih jauh dari pemulihan kerugian sejak perang dimulai, menguat seiring turunnya harga minyak dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa dan Bank of England.

Saham AS juga mendapat dukungan dari ekspektasi kuatnya kinerja laba kuartal pertama, yang sebagian besar akan dirilis pekan ini.

Tonton: Hormuz Ditutup Lagi! IRGC Tembak Dua Kapal Tanker, Harga Minyak Terancam Meledak

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mencapai level terendah sejak pertengahan Maret pada Jumat.

Dolar sebelumnya melemah karena daya tarik aset safe haven menurun pada akhir pekan lalu, mendorong indeks dolar ke level terendah dalam tujuh minggu. Namun pada awal perdagangan Asia Senin, indeks tersebut kembali naik 0,2%.

“Risikonya adalah pasar bergerak terlalu jauh di depan kenyataan. Reli 13 hari di Nasdaq adalah sesuatu yang ekstrem. Indeks dolar telah turun dalam sembilan dari 10 sesi terakhir,” kata Marc Chandler dari Bannockburn Capital Markets dalam catatannya pada Minggu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News