Iran vs AS Makin Panas: Trump Ancam Tenggelamkan Kapal Penebar Ranjau, Minyak Melejit



KONTAN.CO.ID - Harga kontrak berjangka minyak mentah melonjak sekitar US$ 5 per barel pada Kamis setelah muncul laporan bahwa pertahanan udara Iran sedang menghadapi target di atas Teheran, serta adanya indikasi perebutan kekuasaan antara kelompok garis keras dan kelompok moderat di Iran.

Namun setelah sempat melonjak, harga minyak memangkas sebagian kenaikannya.

Kontrak Brent ditutup di US$ 105,07 per barel, naik US$ 3,16 atau 3,1%. Sementara West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$ 95,85 per barel, naik US$ 2,89 atau 3,11%.

Negosiator Iran Mundur


Mengutip Reuters, radio Israel melaporkan pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim yang berkomunikasi dengan Amerika Serikat melalui mediator Pakistan untuk mengakhiri perang.

Pengunduran diri Qalibaf dinilai sebagai kemenangan bagi faksi garis keras di dalam pemerintahan Iran.

Media Iran juga menyebut pertahanan udara di Teheran sedang melibatkan target di atas kota. Hal ini muncul setelah laporan serangan drone terhadap kelompok Kurdi Iran yang menentang pemerintah Teheran di sebuah basis di Irak.

Baca Juga: Emas Kehilangan Kilau! Lonjakan Harga Energi Bikin Pasar Berbalik Arah

Iran juga memamerkan penguatan kendalinya atas Selat Hormuz lewat video yang menunjukkan pasukan komando Iran menyerbu sebuah kapal kargo besar, setelah gagalnya perundingan damai yang sebelumnya diharapkan Washington dapat membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.

Presiden AS Donald Trump dalam unggahan media sosial menyatakan bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut AS “untuk menembak dan membunuh kapal mana pun” yang menebar ranjau di selat tersebut.

John Kilduff, mitra di Again Capital, mengatakan pasar terus diguncang oleh laporan berita yang bergantian antara Trump memperpanjang gencatan senjata pekan ini dan ancaman untuk menenggelamkan kapal Iran yang menebar ranjau.

“Sebagian orang menyebutnya headline bingo, saya menyebutnya headline roulette,” kata Kilduff. “Saya khawatir suatu hari kita bangun dan sadar bahwa posisi pasokan jauh lebih buruk, lalu harga akan reset ke level yang jauh lebih tinggi.”

Transit Selat Hormuz Masih Terbatas

Meski Trump memperpanjang gencatan senjata setelah permintaan mediator Pakistan, Iran dan AS masih membatasi transit kapal melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak harian dunia sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Trump, tanpa memberikan bukti, menyebut AS kini memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut dan jalur itu “tertutup rapat” sampai Iran mencapai kesepakatan.

Iran menyita dua kapal di jalur tersebut pada Rabu. Trump juga mempertahankan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran.

Namun, data perusahaan analitik Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barel ekspor minyak mentah Iran melewati selat itu dan meninggalkan wilayah blokade Angkatan Laut AS pada periode 13–21 April.

Militer AS juga dilaporkan telah mencegat sedikitnya tiga tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkan mereka menjauh dari wilayah dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, menurut sumber pelayaran dan keamanan pada Rabu.

Tonton: Perundingan AS-Iran Ditunda, Islamabad Lumpuh Warga Mulai Lelah

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump belum menetapkan batas waktu kapan gencatan senjata yang diperpanjang ini akan berakhir.

Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, mengatakan kenaikan harga masih tertahan karena pasar percaya kondisi pasokan masih bisa dikendalikan.

“Pasar masih percaya kita akan menemukan jalan keluar dari situasi ini,” kata Flynn.

Federal Reserve Bank of Dallas pada Kamis menyebut survei terhadap 120 eksekutif perusahaan minyak dan gas bulan ini menunjukkan 39% responden memperkirakan lalu lintas Selat Hormuz kembali normal pada Agustus, dan 26% memperkirakan normal pada November.

Sebanyak 20% eksekutif yang disurvei pada 15–20 April percaya lalu lintas akan normal kembali pada Mei, menurut Dallas Fed.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News