KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten kembali memanfaatkan aksi
rights issue untuk memperkuat permodalan dan mendukung ekspansi bisnis. Beberapa di antaranya adalah PT Aviana Sinar Abadi Tbk (
IRSX), PT Bank Maspion Indonesia Tbk (
BMAS), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (
BUVA). Meski sama-sama melakukan rights issue, ketiga emiten tersebut memiliki skala penerbitan saham dan tujuan penggunaan dana yang berbeda. Kondisi tersebut membuat profil risiko dan prospek masing-masing emiten juga perlu dicermati investor.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai BMAS memiliki profil
risk-reward yang relatif lebih menarik dibandingkan IRSX dan BUVA. Pasalnya, BMAS menerbitkan saham baru dalam jumlah yang lebih moderat dan dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk memperkuat modal kerja penyaluran kredit.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas pada Senin (24/8) BMAS berencana menerbitkan hingga 2,87 miliar saham baru atau sekitar 15,88% dari modal disetor. Bagi pemegang saham yang tidak mengambil haknya, potensi dilusi mencapai 13,71%. Menurut Wafi, penggunaan dana untuk ekspansi kredit juga membuat dampak aksi korporasi BMAS lebih mudah diproyeksikan terhadap pertumbuhan bisnis. "Tambahan modal dapat langsung dikaitkan dengan peningkatan kapasitas penyaluran kredit, sehingga lebih mudah melihat potensi pertumbuhan setelah aksi korporasi," kata Wafi kepada Kontan, Jumat (21/8/2026). Sementara itu, IRSX memiliki risiko dilusi yang jauh lebih besar. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 12,39 miliar saham baru atau setara 66,67% dari modal disetor. Besarnya penerbitan saham baru tersebut membuat investor perlu mencermati kemampuan perseroan menghasilkan imbal hasil dari dana yang dihimpun. Terlebih, penggunaan dana rights issue IRSX masih bersifat cukup umum, yakni untuk belanja modal dan modal kerja. Wafi menilai besarnya potensi dilusi membuat aksi korporasi IRSX membutuhkan pembuktian yang kuat dari sisi kinerja bisnis. "Semakin besar penerbitan saham baru, semakin besar pula tuntutan terhadap peningkatan earnings agar nilai per saham tetap menarik bagi pemegang saham lama," ujarnya. Adapun BUVA memiliki profil risiko yang lebih tinggi dari sisi kondisi keuangan. Perseroan menetapkan harga pelaksanaan
rights issue sebesar Rp250 per saham dan menargetkan perolehan dana sekitar Rp1,53 triliun. Wafi menyoroti interest coverage ratio (ICR) BUVA yang hanya 0,42 kali. Rasio tersebut menunjukkan EBITDA perseroan belum mampu menutup beban bunga secara penuh. Kondisi tersebut membuat dana hasil rights issue BUVA dinilai lebih berfungsi untuk memperkuat struktur keuangan dibandingkan sebagai modal ekspansi murni. Pasalnya, sejumlah proyek baru perseroan masih membutuhkan waktu hingga 2028-2029 untuk selesai, sementara beban bunga telah berjalan.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat ke Rp 17.650 pada Senin (24/8) , Ini Pendorongnya "Kalau proyek baru belum menghasilkan dalam beberapa tahun ke depan, sementara beban bunga sudah berjalan sekarang, maka kebutuhan dana tersebut lebih tepat dilihat sebagai
emergency refinancing," jelas Wafi. Dari ketiga emiten, Wafi menempatkan BMAS sebagai pilihan yang paling defensif. Penggunaan dana yang lebih terukur dan tingkat dilusi yang relatif moderat menjadi pertimbangan utama. Sementara itu, investor dinilai masih perlu menunggu informasi lebih lanjut terkait penggunaan dana IRSX sebelum dapat menilai potensi penciptaan nilai dari aksi korporasi tersebut. Untuk BUVA, Wafi menyarankan investor lebih berhati-hati mengingat kondisi fundamental dan kemampuan membayar bunga masih menjadi tantangan. "Dengan kondisi ICR yang rendah dan pengendali yang tidak menggunakan seluruh haknya, kami memilih menghindari BUVA sampai ada kejelasan mengenai
turnaround fundamental," katanya. Risiko dilusi juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan setelah
rights issue. Pada IRSX, tingkat dilusi hingga 66,67% berpotensi memberikan perubahan signifikan terhadap nilai per saham bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya. Sementara BMAS memiliki tingkat dilusi yang lebih rendah. Namun, investor tetap perlu melihat apakah pertumbuhan kredit nantinya mampu menghasilkan tambahan laba yang sepadan dengan kenaikan jumlah saham beredar. Untuk BUVA, Wafi memperkirakan tekanan harga juga masih berpotensi berlanjut. Ia mencatat
theoretical ex-rights price (TERP) berada di sekitar Rp658 dari harga saham Rp760, sementara terdapat potensi
overhang dari skema
backstop sekitar Rp 938,57 miliar atau sekitar 61% dari total emisi.
Baca Juga: Laba Emiten Jadi Cakupan Maybank Sekuritas Mulai Melambat, Sektor Ini Paling Moncer Dari sisi lain, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai ketiga rights issue tersebut memiliki daya tarik yang berbeda karena karakter bisnis dan penggunaan dananya tidak sama. IRSX, menurut Adrian, lebih cocok dilihat sebagai investasi berbasis growth story. Perseroan tengah membawa narasi transformasi bisnis ke sektor digital, artificial intelligence (AI), dan hiburan, tetapi eksekusinya masih perlu dibuktikan melalui kinerja fundamental. Sementara BMAS dinilai memiliki profil yang lebih defensif karena bergerak di sektor perbankan dan dana hasil rights issue diarahkan untuk memperbesar bisnis inti. "Tambahan modal tersebut ditujukan untuk ekspansi bisnis inti yang berpotensi meningkatkan rasio profitabilitas, sementara tingkat dilusinya masih tergolong moderat," ujar Adrian. Adapun BUVA memiliki penggunaan dana yang cukup konkret. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perseroan menghasilkan arus kas untuk menopang kebutuhan pendanaan dan ekspansi. Secara umum, Adrian menilai penggunaan dana rights issue untuk belanja modal dan ekspansi bisnis berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan pendapatan dalam jangka menengah hingga panjang dibandingkan dana yang hanya digunakan untuk menutup kebutuhan modal kerja atau kewajiban utang. Karena itu, BMAS dinilai menjadi emiten yang paling menarik untuk dicermati dari ketiga aksi korporasi tersebut, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang.
Sementara untuk rekomendasi perdagangan, Adrian memberikan rekomendasi trading buy BUVA dengan target harga jangka pendek Rp815 per saham.
Baca Juga: Nextier Datamate Lepas 52,93 Juta Saham NExAI (MGLV) di Rp 7.000, Harga Tetap Naik Di sisi lain, Wafi memilih BMAS sebagai yang paling defensif, sementara IRSX masih membutuhkan kejelasan lebih lanjut mengenai potensi imbal hasil penggunaan dana dan BUVA dinilai perlu dihindari hingga terdapat perbaikan fundamental yang lebih meyakinkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News