Irvan membekali diri dengan pengetahuan



JAKARTA. Berinvestasi berbeda dengan menabung. Begitu kata Presiden Direktur PT Krakatau Steel Irvan Hakim. Investasi layak menjadi pilihan bagi mereka yang mengejar imbal hasil.

Ketika sudah memiliki penghasilan di tahun 1989, pria keturunan Timur Tengah itu, mengaku belum memulai berinvestasi. Dia hanya menabung. Alasan Irvan, kala itu, ragam instrumen investasi sangat minim. Sudah begitu, jumlahnya pun terbatas.

Namun, ayah tiga anak sudah tertarik berinvestasi. Lahan investasi pertama Irvan adalah saham. Dia memilih saham Bank Lippo. Irvan bercerita, di tahun 1998 saham bank Lippo cukup memikat bagi masyarakat.


Penjualan saham pun laris manis. Para calon investor harus mengantri untuk mendapatkan saham tersebut. Saat itu, dia membeli saham bank Lippo senilai total Rp 600.000.

Ternyata, harga saham Bank Lippo terus anjlok. Akibatnya, modal Irvan tinggal tersisa separuh dari modal awal. Pengalaman itu sempat membuat Irvan kapok berinvestasi di saham.

Namun situasi itu tidak berlangsung lama. Irvan kemudian menjadikan pengalaman sebagai sebuah pelajaran berharga.

Sekarang Irvan tak lagi ceroboh membeli saham. Dia bilang, sebelum membeli akan mempelajari kondisi perusahaan dan membekali diri dengan pengetahuan tentang industri tersebut.

Investasi properti

Irvan kemudian mencoba peruntungan berinvestasi di properti. "Saya sebenarnya ingin berinvestasi properti. Tapi saat itu, modal saya masih terbatas," tutur dia.

Baru di tahun 2000, Irvan mulai membeli properti. Dia juga membeli lahan-lahan eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). "Saya betul-betul mengikuti lelang di berbagai tempat," cerita dia.

Irvan mengaku tidak langsung membangun di atas lahan yang dibeli. Dia mengaku membangun secara bertahap. Irvan membangun rumah kantor dan rumah toko.

Baru di tahun 2006, Irvan menjual beberapa propertinya. Selain itu, Irvan juga menyewakan sebagian properti tersebut.

Irvan lebih memilih berinvestasi properti dalam bentuk tanah. Menurut dia, investasi dalam bentuk lahan lebih mudah dikembangkan. "Hampir 80% investasi properti saya berbentuk lahan," kata dia.

Hasil investasi properti terutama di Jakarta cukup tinggi. Irvan bilang, imbal hasil setahun kira-kira bisa mencapai 15%. Bahkan, di lokasi tertentu, return bisa memberi 25%.

Tak heran, jika properti milik Irvan paling banyak berada di Jakarta. Di luar ibukota, Irvan juga memiliki lahan di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Untuk memuluskan kiprahnya di properti, Irvan memiliki tim survei pasar dan lahan sendiri. Jadi, dia masih bisa memantau perkembangan properti.

Selain di properti, Irvan juga mencoba membeli saham. Tapi karena kesibukan dia membatasi kepemilikan saham di tujuh emiten. Di antaranya, saham pertambangan, konsumer, industri, perbankan, migas dan infrastruktur. Dia juga membeli, saham PT Krakatau Steel Tbk. Irvan membeli saham dalam jangka panjang atau minimal dalam waktu enam bulan.

Irvan juga mempunyai reksadana. Dia mempunyai prinsip dalam memilih reksadana tidak hanya melihat kinerja sekarang dan masa lalu. Menurut dia, hasil di masa lalu tidak menjamin kinerja ke depan. Karena itu, saat memilih produk. Irvan akan melihat, siapa manajer investasi, dana kelolaan dan portofolionya.

Menurut Irvan, semakin banyak dana kelolaan manajer investasi, berarti kepercayaan orang pada produk reksadana juga besar. Selain reksadana, Irvan juga membekali diri dengan beberapa asuransi. "Saya punya asuransi jiwa, jabatan, properti dan lainnya," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News