KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pusat perbelanjaan membidik transaksi Rp 38 triliun lewat
Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 yang digelar di 407 mal pada 7-23 Agustus 2026. Target ini naik 52% dari realisasi Rp 25 triliun tahun lalu dan diharapkan ikut mengerek konsumsi domestik serta penjualan sektor ritel. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, ISF 2026 menjadi salah satu upaya industri pusat perbelanjaan untuk mendorong aktivitas konsumsi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Festival ini diharapkan bisa menjadi pendorong peningkatan konsumsi domestik," kata Alphonzus, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Target Transaksi Indonesia Shopping Festival Rp 38 Triliun, CELIOS: Terlalu Ambisius Untuk mengejar target tersebut, APPBI memperpanjang masa ISF menjadi 17 hari dari sebelumnya 11 hari. Pengelola mal bersama Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) juga menyiapkan berbagai program promosi. Program tersebut antara lain diskon hingga 80% plus hadiah utama dalam rangka HUT ke-81 RI serta program undian
Big Shop Big Win dengan hadiah mobil. APPBI berharap rangkaian promosi ini meningkatkan kunjungan dan transaksi di pusat perbelanjaan. Bagi industri ritel, momentum tersebut menjadi penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian. Peningkatan transaksi di mal juga berpotensi mengalir ke pelaku usaha lokal dan UMKM yang berjualan di pusat perbelanjaan. Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah memperkirakan penjualan selama ISF 2026 dapat tumbuh sekitar 10%. Namun, realisasi pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada kemauan masyarakat untuk kembali membelanjakan pendapatannya. "Kalau banyak yang terlalu banyak menabung, menahan beli karena khawatir, akan mengganggu sektor konsumsi," ujar Budihardjo.
Baca Juga: Perkuat Portofolio F&B, Erajaya Group Jalin Kemitraan Strategis dengan Oriental Kopi Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai target transaksi Rp 38 triliun cukup ambisius. Pasalnya, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga tidak semua kelompok konsumen memiliki ruang belanja yang besar. Meski demikian, peluang mencapai target tetap terbuka apabila promosi ISF mampu menarik masyarakat kelas menengah atas yang masih memiliki dana mengendap. Kelompok ini dinilai memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan belanja, terutama pada barang sekunder dan tersier seperti fesyen. "Festival belanja bisa menjadi momentum mendorong kelompok menengah atas yang masih menyimpan dananya untuk mulai berbelanja," kata Bhima. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat besarnya diskon menjadi faktor penting dalam mendorong transaksi. Bagi masyarakat kelas menengah yang tengah menghadapi tekanan daya beli, penurunan harga dapat menjadi pemicu untuk merealisasikan pembelian yang sebelumnya ditunda. "Kalau diskon yang ditawarkan sangat besar, sampai 75%, bisa genjot konsumsi," ujar Faisal.
Baca Juga: APPBI Siap Gelar Indonesian Shopping Festival 2026, Bidik Transaksi Rp 38 Triliun Dengan periode promosi yang lebih panjang dan diskon besar, ISF 2026 berpeluang menjadi katalis bagi penjualan ritel.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa besar promosi mampu mengubah dana yang selama ini ditahan masyarakat menjadi konsumsi nyata. Bagi perekonomian, peningkatan transaksi ritel bukan sekadar mengerek penjualan pusat perbelanjaan. Aktivitas tersebut juga dapat mendorong perputaran usaha di sektor perdagangan, memperkuat omzet pelaku UMKM, dan pada akhirnya memberi tambahan dorongan terhadap konsumsi domestik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News