KONTAN.CO.ID - Proposal baru Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi perbincangan panas di dunia sepak bola karena dianggap sangat kental dengan nuansa bisnis. FIFA ingin membentuk perusahaan komersial baru yang mengelola seluruh bisnis organisasi, sekaligus membuka peluang bagi investor swasta untuk memiliki sebagian sahamnya. FIFA menyebut langkah ini akan meningkatkan pendanaan bagi 211 federasi anggotanya. Namun, banyak pihak mempertanyakan transparansi penyusunan proposal tersebut serta dampaknya terhadap tata kelola sepak bola di masa depan.
FIFA Akan Membentuk Perusahaan Baru
Mengacu laporan
Reuters, poin utama dalam proposal tersebut adalah pembentukan
FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah anak perusahaan yang akan mengelola seluruh aktivitas komersial FIFA. FFE nantinya akan menaungi berbagai sumber pendapatan FIFA, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, lisensi, hingga penyelenggaraan turnamen seperti Piala Dunia. Dengan menggabungkan seluruh aset komersial ke dalam satu entitas, FIFA berharap dapat meningkatkan nilai bisnis kompetisi-kompetisinya. Baca Juga:
Mengenal FIFA Forward Enterprise, Anak Usaha Baru FIFA Bernilai US$20 Miliar Sebagian Saham Dibuka untuk Investor
FIFA memperkirakan nilai FFE mencapai sekitar US$20 miliar, mengacu pada estimasi dari JPMorgan. Melalui skema tersebut, FIFA berencana melepas hingga 20% saham kepada investor eksternal untuk menghimpun pendanaan baru. Meski demikian, FIFA menegaskan tetap akan menjadi pemegang saham mayoritas sehingga kendali atas perusahaan dan seluruh kompetisi internasional tetap berada di tangan organisasi tersebut.
Dana untuk Federasi Akan Meningkat
Apabila proposal disetujui, setiap dari 211 asosiasi anggota FIFA berpotensi menerima pendanaan hingga US$40 juta atau sekitar Rp723 miliar untuk siklus 2027-2030. Dana tersebut terdiri atas:
- US$20 juta melalui program Fast-Forward yang diberikan satu kali.
- US$20 juta melalui program FIFA Forward untuk periode 2027-2030.
FIFA juga berencana meningkatkan nilai bantuan tersebut menjadi US$22 juta pada siklus 2031-2034 dan US$24 juta pada periode 2035-2038. Baca Juga:
UEFA Murka FIFA Jual Saham Piala Dunia, Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan? Proposal Harus Disetujui Mayoritas Federasi
Menurut Gianni Infantino, pembentukan FFE tidak akan diputuskan secara sepihak. Proposal tersebut baru bisa dijalankan apabila memperoleh dukungan dari lebih dari 50% dari total 211 asosiasi anggota FIFA. Selain itu, rencana tersebut juga harus mendapat persetujuan dari FIFA Council. Infantino menyebut mekanisme tersebut sebagai proses pengambilan keputusan yang demokratis. Dalam surat yang dikirim kepada seluruh federasi anggota, FIFA menetapkan 19 September 2026 sebagai batas waktu untuk memberikan keputusan. Federasi yang menyatakan dukungan sebelum tenggat akan memperoleh dana
Fast-Forward sebesar US$20 juta mulai 1 Januari 2027. Apabila proposal tidak disetujui, federasi hanya akan menerima peningkatan pendanaan dari program FIFA Forward yang telah direncanakan sebelumnya, yakni sekitar US$10 juta per federasi pada siklus berikutnya sebagai bagian dari paket pendanaan senilai US$2,7 miliar.
FIFA Klaim Tata Kelola Tetap Sama
FIFA menegaskan proposal tersebut tidak akan mengubah struktur organisasi maupun sistem tata kelola yang berlaku saat ini. Dalam proposalnya, FIFA menyatakan akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas FFE secara permanen. Organisasi itu juga mengklaim tetap memiliki kendali penuh atas seluruh urusan penyelenggaraan kompetisi, termasuk Piala Dunia. Selain itu, hak dan kewajiban seluruh federasi anggota disebut tidak akan mengalami perubahan. Baca Juga:
Kontroversi FIFA dan Trump Berlanjut, Norwegia Siapkan Laporan Resmi