KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Israel menghancurkan jaringan infrastruktur bawah tanah milik kelompok Hezbollah di punggung bukit Ali al-Taher, Lebanon Selatan. Operasi tersebut disebut telah memperkuat konsolidasi zona keamanan Israel di wilayah tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pasukan Israel akan tetap berada di kawasan itu untuk mencegah Hezbollah, kelompok bersenjata yang didukung Iran, kembali membangun kehadiran serta memulihkan kemampuan militernya. "Pasukan Israel akan tetap berada di wilayah tersebut untuk mencegah kelompok militan Hezbollah yang bersekutu dengan Iran membangun kembali kehadirannya dan memulihkan kemampuannya," kata Netanyahu dan Katz dalam pernyataan bersama, Kamis (10/9/2026).
Punggung bukit Ali al-Taher berjarak sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik yang paling diperebutkan dalam konflik antara Israel dan Hezbollah. Menurut sumber keamanan Lebanon yang berbicara kepada Reuters pada Juli, Hezbollah diyakini telah membangun pusat komando bawah tanah serta tempat penyimpanan senjata di kawasan tersebut.
Baca Juga: Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Iran Diduga Buka Front Baru Lawan AS Kantor berita pemerintah Lebanon, NNA, melaporkan militer Israel melakukan ledakan besar di punggung bukit Ali al-Taher. Getaran dan suara ledakan dilaporkan terasa hingga wilayah Nabatieh dan daerah sekitarnya. Militer Israel menyatakan pasukannya telah memperoleh "kendali operasional" atas kawasan tersebut, baik di atas maupun di bawah permukaan tanah, sebelum membongkar infrastruktur bawah tanah Hezbollah. Jaringan bawah tanah itu membentang lebih dari 2 kilometer dan disebut menampung puluhan roket, rudal, serta drone. Infrastruktur tersebut juga dilengkapi rudal antiranjau, ranjau dan berbagai perangkat peledak. Militer Israel juga menyebut terdapat kompleks komando utama milik unit Badr Hezbollah di dalam jaringan bawah tanah tersebut. Kompleks itu mencakup pusat komando, ruang penyimpanan senjata, serta tempat tinggal yang memungkinkan para pejuang bertahan di bawah tanah dalam waktu lama.
Israel Perluas Zona Penyangga di Lebanon Selatan
Israel telah memasuki wilayah Lebanon Selatan dan menguasai sejumlah posisi strategis sejak konflik kembali berkobar pada 2 Maret.
Baca Juga: Yield Obligasi AS Mendekati 5%, Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Punggung bukit Ali al-Taher menjadi salah satu fokus utama operasi militer Israel dan berada di dalam zona penyangga yang diperluas dan secara sepihak ditetapkan Israel di Lebanon Selatan.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah proses gencatan senjata yang belum sepenuhnya berjalan. Kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat setelah gencatan senjata pada Juni sebelumnya mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Lebanon Selatan. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pasukan Lebanon juga diharapkan mengambil langkah untuk melucuti Hezbollah. Namun, proses tersebut mengalami kebuntuan. Hezbollah menolak menyerahkan persenjataannya, sementara Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon Selatan sebelum kelompok tersebut dilucuti. Dengan penghancuran infrastruktur bawah tanah di Ali al-Taher, Israel kembali menunjukkan fokusnya untuk mempertahankan posisi strategis di Lebanon Selatan sekaligus mencegah Hezbollah memulihkan jaringan militernya di kawasan tersebut.