Israel Luncurkan Serangan Baru ke Lebanon, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam



KONTAN.CO.ID - Israel mengebom sejumlah target di Lebanon pada Kamis (9/4/2026), sehingga gencatan senjata di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran berada di ambang kehancuran.

Serangan besar-besaran ini sebelumnya menewaskan lebih dari 250 orang dan mengancam keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Dolar Tertahan Kamis (9/4) Sore, Ketidakpastian Gencatan Senjata Tekan Sentimen Pasar


Negosiator Iran dijadwalkan bertolak ke Pakistan untuk memulai pembicaraan damai pertama sejak perang dimulai, dan akan bertemu delegasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance pada Sabtu.

Namun, belum ada tanda bahwa Iran mencabut blokade Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi global, sementara Teheran menegaskan tidak akan ada kesepakatan selama Israel terus menyerang Lebanon.

Gangguan ini mendorong harga minyak fisik untuk pengiriman di Eropa dan Asia mendekati rekor hampir $150 per barel, dengan harga produk tertentu seperti avtur bahkan lebih tinggi.

Israel, yang menyerang Lebanon untuk menumpas kelompok bersenjata Hezbollah, sekutu Teheran, menyatakan aksinya tidak termasuk dalam gencatan senjata yang diumumkan Trump.

Washington juga menyatakan Lebanon tidak tercakup dalam gencatan senjata, meskipun Iran dan Pakistan sebagai mediator menegaskan sebaliknya.

Sejumlah negara termasuk Inggris dan Prancis menegaskan gencatan senjata harus mencakup Lebanon dan mengecam serangan Israel.

Baca Juga: Laba Uniqlo Pecah Rekor, Meski Krisis Timur Tengah Guncang Pasar

Kematian Pejabat Hezbollah dan Balasan Militan

Militer Israel mengumumkan telah menewaskan keponakan Sekretaris Jenderal Hezbollah Naim Qassem dan menyerang sejumlah jembatan sungai yang digunakan kelompok itu.

Serangan terjadi di pinggiran selatan Beirut dan sejumlah kota di selatan Lebanon.

Hezbollah, yang semula menangguhkan serangan sejalan dengan gencatan senjata, kembali meluncurkan serangan ke Israel pada Kamis pagi, menembakkan peluru melintasi perbatasan dan ke pasukan Israel di Lebanon selatan.

Tim penyelamat bekerja sepanjang malam untuk menyelamatkan warga yang terjebak di reruntuhan akibat serangan yang mengenai kawasan padat penduduk.

Naim Chebbo, seorang warga Beirut, menyatakan, “Ini rumah saya, saya telah tinggal di sini lebih dari 51 tahun. Semua hancur.”

Baca Juga: Bank Sentral Thailand Pertahankan Suku Bunga 1%, Risiko Inflasi Mengintai

Protes dan Peringatan Iran

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menilai serangan Israel sebagai pelanggaran serius dan berpotensi menimbulkan bencana lebih lanjut.

Di Iran, jutaan orang mengikuti peringatan 40 hari wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, termasuk aksi di kota-kota besar seperti Teheran, Kermanshah, dan Yazd.

Harga Minyak Tembus Rekor

Kontrak minyak berjangka sempat turun sejak pengumuman gencatan senjata karena ekspektasi pasokan akan kembali normal.

Namun, harga minyak fisik melonjak karena sebagian besar pasokan global, sekitar 20%, terganggu selama enam minggu konflik.

Baca Juga: Goldman Sachs & ANZ Pangkas Prediksi Harga Minyak 2026 Usai Gencatan Senjata AS-Iran

Trump menegaskan, jika Iran tidak mematuhi kesepakatan, serangan AS akan dilancarkan lebih besar dari sebelumnya.

Meskipun Trump mengklaim kemenangan, tujuan awal perang menghilangkan kemampuan Iran menyerang negara tetangga, menghancurkan program nuklir, dan melemahkan rezim belum tercapai.

Iran tetap memiliki rudal dan drone yang mampu menyerang negara tetangga serta persediaan uranium yang telah diperkaya.

Sementara itu, kontrol Teheran atas Selat Hormuz menunjukkan kemampuan Iran mempertahankan pengaruhnya meski ada kehadiran militer AS yang besar.

Perselisihan inti tetap belum terselesaikan, dengan masing-masing pihak bersikeras pada tuntutan sendiri yang berpotensi membentuk masa depan Timur Tengah.