KONTAN.CO.ID - Israel pada Senin (20/4/2026) memperingatkan warga Lebanon selatan untuk tidak memasuki wilayah sabuk keamanan di sepanjang perbatasan, serta menjauhi area Sungai Litani. Langkah ini menandai penguatan posisi militer Israel di wilayah tersebut, meskipun gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran masih berlaku.
Baca Juga: Kapal Induk China Melintasi Selat Taiwan, Ketegangan Kawasan Kian Meningkat Melansir
Reuters, gencatan senjata selama 10 hari yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Kamis lalu, menghentikan sebagian besar pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang merupakan bagian dari konflik lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, situasi di lapangan tetap rapuh. Militer Israel dilaporkan masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan dengan tujuan membentuk zona penyangga (
buffer zone) guna melindungi wilayah utara Israel dari potensi serangan Hizbullah. Di sisi lain, Hizbullah menegaskan tetap memiliki “hak untuk melawan” pendudukan Israel.
Baca Juga: Samsung SDI Raih Kontrak Pasok Baterai EV Perdana untuk Mercedes-Benz Melalui unggahan di media sosial, militer Israel merilis peta yang menunjukkan garis merah melintasi 21 desa di Lebanon selatan. Warga diminta untuk tidak memasuki wilayah antara garis tersebut dan perbatasan Israel, dengan alasan adanya aktivitas militer yang masih berlangsung. Selain itu, lebih dari 50 desa lain di wilayah selatan juga dinyatakan belum aman untuk dihuni kembali. Israel juga melarang warga mendekati kawasan Sungai Litani, yang sebagian besar mengalir di utara zona yang saat ini dikuasai militer Israel. Sehari sebelumnya, militer Israel juga telah mempublikasikan peta serupa yang menunjukkan garis penempatan baru pasukannya di dalam wilayah Lebanon, membentang sekitar 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan. Area tersebut dilaporkan menjadi lokasi penghancuran sejumlah desa oleh militer Israel.
Baca Juga: Maskapai Penerbangan Asia Kebanjiran Penumpang ke Eropa, Imbas Konflik Timur Tengah Sementara itu, pejabat senior Hizbullah Mahmoud Qmati mengimbau warga di pinggiran selatan Beirut yang dikuasai kelompok tersebut agar tidak kembali ke rumah mereka untuk sementara waktu, mengingat risiko serangan Israel masih tinggi. Pemerintah lokal di Lebanon selatan juga mengeluarkan peringatan serupa, menyatakan bahwa kondisi keamanan belum memungkinkan bagi warga untuk kembali. Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah mengklaim bahwa perangkat peledak yang sebelumnya dipasang oleh para pejuangnya meledak saat kendaraan militer Israel melintas pada Minggu, menghancurkan empat tank. Namun, militer Israel belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut. Militer Israel sebelumnya menyebutkan satu tentaranya tewas dan sembilan lainnya terluka dalam pertempuran di Lebanon selatan.
Konflik di Lebanon meningkat sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan serangan sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,5 Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan Serangan balasan Israel kemudian menewaskan lebih dari 2.300 orang di Lebanon, termasuk 177 anak-anak, serta memaksa lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, menurut otoritas setempat. Di sisi lain, Hizbullah telah meluncurkan ratusan roket dan drone ke wilayah Israel, yang menyebabkan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan di kawasan.