KONTAN.CO.ID - PERTH/ BEIJING. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari US$ 4 per barel pada Senin (8/6/2026). Ini setelah investor dikejutkan oleh serangan Israel terbaru terhadap Iran serta serangan baru terhadap Lebanon sehari sebelumnya. Senin (8/6/2026), harga minyak mentah Brent naik US$ 4,42 atau 4,47% menjadi US$ 97,15 per barel pada pukul 06.09 GMT. Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik US$ 4,07 atau 4,50% menjadi US$ 94,61 per barel.
Reuters melaporkan, Israel menyerang pabrik petrokimia di barat daya Iran, bersamaan dengan serangan di tempat lain terhadap target militer. Hal itu terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lebih lanjut.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Puncak Dua Bulan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga Dalam serangan pertama terhadap situs energi di Iran sejak gencatan senjata 8 April, Israel menyatakan telah menyerang target di kompleks petrokimia Mahshahr. Seorang pejabat provinsi mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Iran, Fars, bahwa sebagian pabrik tersebut mengalami kerusakan. Harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz, yang dulunya dilalui oleh sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia, kini semakin menipis. Kenaikan harga minyak pada Senin ini menghapus kerugian pada hari Jumat, ketika harga turun karena harapan akan de-eskalasi konflik AS-Iran. Harga minyak telah naik hampir 60% sejak dimulainya perang pada akhir Februari, tetapi tetap di bawah harga tertinggi yang dicapai pada bulan Maret ketika Brent mencapai hampir $120 per barel. Pada hari Minggu, Iran menembakkan rentetan rudal ke target Israel sebagai balasan atas serangan terhadap Lebanon. Meskipun demikian, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang lebih luas masih sangat mungkin tercapai. Iran telah menjadikan gencatan senjata dengan Lebanon sebagai syarat untuk kesepakatan damai dengan Washington. Israel menginvasi Lebanon pada bulan Maret setelah Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket dan drone melintasi perbatasan. Lebanon dan Israel mengatakan pada 3 Juni bahwa mereka telah menyepakati gencatan senjata setelah negosiasi di Washington.
Baca Juga: Laba Maskapai Global Terancam, Proyeksi 2026 Dipangkas Separuh! Pada hari Senin, duta besar Iran untuk Moskow mengatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tetapi dengan syarat baru yang akan ditetapkan oleh Iran dan Oman, termasuk biaya transit. "Tentu saja, selat ini akan dibuka, tetapi dengan syarat baru yang akan ditentukan oleh otoritas Iran dan Oman," kata Duta Besar Kazem Jalali kepada surat kabar Rusia Izvestia dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Senin.
Teheran telah memblokir sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz, sementara Washington telah memberlakukan blokade sendiri terhadap pelabuhan Iran. Di tengah krisis pasokan yang terjadi, OPEC+ pada hari Minggu menyetujui peningkatan produksi minyak keempat dalam empat bulan. Namun, analis mengatakan keputusan tersebut akan berdampak kecil karena sebagian besar anggota OPEC+ tidak dapat memenuhi target produksi mereka karena penutupan Selat Hormuz atau, dalam kasus Rusia, serangan terhadap infrastruktur yang telah mengikis kapasitas produksinya. "Di pasar saat ini, dampak fisik dari keputusan tersebut akan mendekati nol," kata kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, dalam sebuah catatan kepada kliennya.