KONTAN.CO.ID - Starbucks menegaskan fokus pada pemulihan bisnis di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol, menyusul laporan bahwa perusahaan kedai kopi asal Amerika Serikat (AS) tersebut sempat menjajaki kemungkinan mengakuisisi jaringan restoran cepat saji Chipotle Mexican Grill. Melansir
Reuters, Starbucks pada Kamis (8/10/2026) menolak berkomentar mengenai laporan tersebut. Perusahaan menyatakan tengah berkonsentrasi penuh pada program pemulihan bisnis selama dua tahun yang dijalankan Niccol. Juru bicara Starbucks mengatakan, perusahaan tidak menanggapi rumor maupun spekulasi. Starbucks juga menyatakan masih memiliki momentum bisnis yang kuat dan optimistis terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat 0,5% Jumat (9/10), Saham Bank dan Emas Jadi Penopang Laporan Financial Times sebelumnya menyebut Starbucks telah bekerja sama dengan penasihat dalam beberapa bulan terakhir untuk menjajaki potensi akuisisi Chipotle, dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Chipotle belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Niccol memiliki rekam jejak di Chipotle sebelum bergabung dengan Starbucks pada 2024. Ia memimpin Chipotle selama sekitar enam tahun dan dinilai berhasil memulihkan bisnis restoran tersebut setelah menghadapi krisis keamanan pangan. Di bawah kepemimpinannya, Chipotle juga memperluas bisnis digital dan mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat. Pasar merespons laporan tersebut dengan pergerakan saham yang berbeda. Saham Starbucks yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 107 miliar menutup perdagangan Kamis hampir tidak berubah setelah memangkas kerugian. Sementara itu, saham Chipotle melonjak 6%, sehingga nilai pasar jaringan restoran burrito tersebut mencapai sekitar US$ 41 miliar. Analis RBC Capital Markets Logan Reich menilai, potensi akuisisi tersebut dapat dipandang positif bagi Chipotle, terutama karena Niccol berpeluang kembali terlibat dengan merek yang pernah dipimpinnya. Namun, Reich menilai investor selama ini cenderung skeptis terhadap strategi perusahaan restoran yang mengakuisisi merek tambahan untuk mendorong pertumbuhan. Menurut dia, alasan strategis Starbucks untuk mengambil alih Chipotle juga belum terlihat jelas.
Baca Juga: Jelang Pre-Prde iPhone Duo, Waspadai Situs Palsu untuk Curi Data Akuisisi berpotensi membebani keuangan Starbucks Sejumlah analis menilai akuisisi Chipotle juga berpotensi menjadi beban bagi Starbucks, yang saat ini masih membutuhkan investasi besar untuk memperbaiki kinerja bisnisnya. Strategi pemulihan yang dijalankan Niccol selama dua tahun terakhir mencakup peningkatan kepuasan pelanggan melalui penambahan investasi tenaga kerja dan perbaikan gerai. Langkah tersebut ditujukan untuk memangkas waktu tunggu pelanggan sekaligus mengembalikan suasana kedai kopi yang menjadi ciri khas Starbucks. Starbucks telah mengalokasikan sedikitnya US$ 500 juta untuk investasi tenaga kerja sebagai bagian dari program transformasi tersebut. Namun, pengeluaran ini turut menekan profitabilitas perusahaan. Di bawah kepemimpinan Niccol, Starbucks telah mencatat pertumbuhan penjualan di gerai yang beroperasi setidaknya selama satu tahun atau
comparable sales selama empat kuartal berturut-turut.
Baca Juga: Indonesia Masuk, Ini Daftar Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat di Asia Meski demikian, Niccol pada Juli lalu mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memulihkan bisnis perusahaan. Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi di Annex Wealth Management, menilai waktu penjajakan akuisisi tersebut kurang tepat karena Starbucks masih berada di tengah proses transformasi dan belum menunjukkan perbaikan margin yang diharapkan investor. Data LSEG menunjukkan, margin operasional Starbucks yang telah disesuaikan tercatat sebesar 14,4% pada kuartal ketiga tahun fiskal, turun dibandingkan 16,7% dua tahun sebelumnya. Strategi akuisisi juga berpotensi membutuhkan pembiayaan besar melalui utang maupun penerbitan saham baru. Strategis pasar global eToro, Lale Akoner, menilai tanpa alasan finansial yang kuat, transaksi tersebut berisiko dipandang investor sebagai pengeluaran mahal yang mengalihkan perhatian dari agenda pemulihan bisnis Starbucks. Starbucks menyatakan akan mengumumkan kinerja kuartal keempat sekaligus memberikan proyeksi untuk tahun fiskal berikutnya pada akhir bulan ini.
Baca Juga: Trump Klarifikasi Pernyataan soal Iran Bisa Hancurkan Los Angeles dan San Diego Peluang perluasan pasar internasional Chipotle Di sisi lain, akuisisi oleh Starbucks berpotensi mempercepat ekspansi internasional Chipotle. Analis Northcoast Research Jim Sanderson menilai jaringan kemitraan berlisensi Starbucks di Eropa dapat dimanfaatkan untuk memperluas kehadiran Chipotle di pasar tersebut. Ekspansi internasional memang menjadi salah satu fokus CEO Chipotle saat ini, Scott Boatwright, yang menggantikan Niccol. Tahun ini, Chipotle membuka restoran pertamanya di Meksiko dan Arab Saudi, menambah jaringan sekitar 100 gerai di luar AS. Tahun lalu, Chipotle juga mengumumkan pembentukan usaha patungan dengan perusahaan makanan asal Korea Selatan, SPC Group, untuk memperluas bisnisnya di Asia.
Sebagai perbandingan, Starbucks mengoperasikan sekitar 40.000 gerai di seluruh dunia. Di Amerika Utara, Starbucks memiliki sekitar 18.000 gerai, sedangkan Chipotle tercatat memiliki 3.938 restoran di AS hingga akhir tahun lalu. Meski potensi akuisisi dapat membuka peluang ekspansi bagi Chipotle, langkah tersebut masih berupa laporan penjajakan dan belum menjadi kesepakatan resmi. Starbucks sendiri tetap menegaskan fokusnya pada pemulihan bisnis dan peningkatan profitabilitas.
Baca Juga: Bersaing dengan Menkes Budi, Negara Ini Juga Incar Kursi Dirjen WHO