Isu bom hingga suku bunga menyeret rupiah



JAKARTA. Isu keamanan dalam negeri telah memukul nilai tukar rupiah. Tekanan rupiah juga datang dari kebijakan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Di pasar spot, Kamis (1/1) nilai tukar rupiah tergerus 0,52% ke level Rp 13.907 per dollar AS dibanding sehari sebelumnya. Sedangkan kurs tengah BI menunjukkan rupiah melemah 0,11% ke level Rp 13.877 per dollar AS.

Vidi Yuliansyah, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, peristiwa ledakan bom di Jl. MH Thamrin, Jakarta telah mempengaruhi sentimen domestik. “Meski kondisi pasca ledakan mulai terkendali, kepercayaan investor terhadap keamanan di Indonesia menjadi berkurang,” paparnya.


Di hari yang sama, BI juga mengeluarkan kebijakan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Hal tersebut turut menyeret pergerakan rupiah.

Sentimen domestik yang mempengaruhi rupiah hari ini menurut Vidi akan berlanjut hingga akhir pekan. “Keputusan BI untuk memangkas suku bunga masih akan mendapat respon hingga besok,” lanjutnya.

Di samping itu, ada juga data lain yakni neraca perdagangan dalam negeri yang diprediksi surplus US$ 100 juta.

Sementara dari sisi eksternal, pasar masih fokus pada kondisi pasar saham China dan penurunan harga minyak dunia. Jika China terus melakukan devaluasi terhadap yuan, maka rupiah bisa terseret mengingat adanya kemungkinan perang mata uang.

Apalagi, upaya China melemahkan yuan tahun lalu terbukti berhasil untuk mendorong kenaikan ekspor. Vidi memprediksi rupiah akan melanjutkan pelemahan di akhir pekan dengan pergerakan terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto