Isu China mendepak CPO ke level terendah sepekan



KUALA LUMPUR. Isu perlambatan ekonomi Chian mendepak harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) ke level terendah dalam sepekan. Pasar khawatir perlambatan di China akan menyebabkan surutnya permintaan minyak sawit. Apalagi, negara ini tercatat sebagai pengimpor minyak nabati terbesar di dunia.Kontrak CPO untuk pengiriman Juni di Malaysia Derivatives Exchange terpangkas 0,8% ke posisi RM 3.427 atau setara US$ 1.117 per metrik ton. Ini level terendah sejak 23 Maret lalu. Selanjutnya, kontrak yang sama mengakhiri sesi perdagangan pagi di RM 3.429 per metrik ton di Kuala Lumpur. Meski begitu, jika dihitung dalam satu kuartal ini, harga minyak sawit sudah melejit 8%.Para analis yang disurvei Bloomberg memprediksi, indeks manufaktur China kemungkinan turun ke posisi 50,8 pada Maret, dibanding bulan sebelumnya di level 51. Biro statistik dijadwalkan merilis data tersebut pada 1 April mendatang. Aurobinda Prasad, kepala riset di Karvy Comtrade Ltd. menilai, perlambatan ekonomi di China bisa mempengaruhi permintaan minyak sawit. Namun, dia bilang, koreksi harga hanya untuk jangka pendek, sebab produksi kedelai global diprediksi surut. Kemarin, Buenos Aires Cereals Exchange melaporkan, panen kedelai di Argentina kemungkinan hanya mencapai 45 juta ton, atau lebih rendah 1,2 juta tin dari proyeksi sebelumnya. Sebagai produksi substitusi, pergerakan harga minyak sawit dan kedelai akan saling memengaruhi."Surutnya hasil panen kedelai, serta produksi sawit Malaysia yang juga seret bisa kembali mendongkrak harga minyak sawit," ujar Prasad, hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Dupla Kartini