Isu Kerugian BUMN Jadi Batu Sandungan Akuisisi GoTo oleh Grab



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proses rencana akuisisi GoTo Group oleh Grab Holdings Ltd. berpotensi terus menemui jalan terjal, seiring alotnya negosiasi terkait pelepasan saham minoritas milik PT Telkomsel. Isu utama yang mengemuka adalah risiko kerugian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) apabila saham GoTo dilepas di bawah harga investasi awal.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) sekaligus pengamat pasar modal, Budi Frensidy, menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan persepsi hukum mengenai kerugian BUMN yang kerap disamakan dengan kerugian negara.

“Selama realized loss di BUMN masih dianggap sebagai kerugian negara, akan sulit bagi Telkomsel untuk menjual sahamnya di bawah harga beli,” ujar Budi kepada Kontan, Rabu (28/1).


Menurut dia, apabila harga transaksi akuisisi berada pada level yang sama atau lebih tinggi dari harga investasi awal Telkomsel, kekhawatiran tersebut relatif tidak relevan. Namun situasinya menjadi berbeda apabila harga yang digunakan adalah harga pasar saat ini, yang berada di bawah harga perolehan.

Baca Juga: Ekspansi, Biro Klasifikasi Indonesia Buka Layanan Sertifikasi di China

“Jika harganya mengikuti harga pasar yang berada di bawah harga beli Telkomsel, maka yang harus menanggung kerugian tersebut adalah Telkomsel,” jelas Budi.

Sebagaimana diketahui, Telkomsel tercatat menginvestasikan sekitar US$450 juta, baik dalam bentuk saham maupun obligasi konversi, ke entitas yang kemudian menjadi GoTo Group. Dengan harga saham GoTo di kisaran Rp60 per saham saat ini, pelepasan kepemilikan tersebut diperkirakan berpotensi menimbulkan kerugian ratusan juta dolar AS bagi Telkomsel.

Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Telkomsel menyampaikan keberatan untuk melepas sekitar 2% sahamnya di GoTo pada valuasi saat ini. Kekhawatiran terhadap potensi kerugian modal negara disebut menjadi alasan utama, mengingat risiko hukum yang dapat timbul apabila kerugian tersebut dikategorikan sebagai kerugian negara.

Situasi ini membuka ruang bagi Telkomsel untuk menegosiasikan harga yang lebih tinggi dalam skema akuisisi tersebut. Di sisi lain, hambatan dari pemegang saham BUMN ini dinilai memperumit upaya Grab untuk menguasai GoTo, yang secara strategis dipandang penting untuk memperkuat posisi Grab di pasar transportasi daring dan layanan pesan-antar makanan di Asia Tenggara.

Selain isu harga, rencana transaksi ini juga dibayangi kekhawatiran lain, mulai dari potensi pelanggaran aturan anti-monopoli, risiko kenaikan tarif layanan, hingga sensitivitas politik terkait perlindungan perusahaan teknologi dalam negeri dan jutaan mitra pengemudi ojek online.

Hingga saat ini, perundingan antara para pihak masih berlangsung untuk mencari struktur transaksi yang dapat diterima seluruh pemangku kepentingan. Akan tetapi, sampai berita ini diturunkan, baik manajemen GoTo maupun Telkomsel belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi Kontan terkait perkembangan rencana akuisisi tersebut.

Baca Juga: Garap Sitaan Satgas PKH, Perminas Bakal Jadi Agrinas Versi Tambang

Selanjutnya: 5 Tips Berumur Panjang Menurut Sains yang Dapat Anda Terapkan

Menarik Dibaca: 5 Tips Berumur Panjang Menurut Sains yang Dapat Anda Terapkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News