Italia Resmi Stop Perjanjian Militer dengan Israel, Ini Alasan PM Giorgia Meloni



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Italia secara resmi menarik rem darurat dalam hubungan militer dengan Israel. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengumumkan penangguhan perpanjangan otomatis atas perjanjian pertahanan lima tahunan antara kedua negara. Keputusan ini menjadi sebuah langkah strategis yang diambil Italia menyusul memanasnya situasi di Lebanon dan Jalur Gaza.

"Mengingat situasi yang sedang kita alami saat ini, telah memutuskan untuk menangguhkan perpanjangan otomatis perjanjian pertahanan dengan Israel," kata Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni di sela-sela acara Vinitaly di Verona Italia. Pernyataan Meloni tersebut diunggah di akun resminya di X pada Selasa 14 April 2026, malam waktu Indonesia.

Mengutip akun Instagram resmi dari Will Media, salah satu media digital paling populer di Italia, keputusan krusial Pemerintah Italia ini diformalisasi melalui surat Menteri Pertahanan Guido Crosetto yang ditujukan langsung kepada Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. 


Langkah diplomatik ini diambil setelah konsensus matang antara Meloni dengan jajaran menteri kunci yakni; Menteri Luar Negeri Antonio Tajani serta Menteri Infrastruktur Matteo Salvini.

Baca Juga: Trump Sebut Negosiasi Damai dengan Iran Bisa Digelar 2 Hari Lagi

Membatalkan Otomatisasi Perjanjian

Perjanjian kerja sama militer antara Italia dan Israel tersebut, ditandatangani pada 2003 dan diratifikasi pada 2005. Perjanjian ini merupakan payung hukum bagi kerjasama riset ilmiah bidang militer, pertukaran pengetahuan sektor pertahanan, hingga latihan militer bersama. Sejak 2006, kerja sama ini selalu diperbarui secara otomatis setiap lima tahun yakni tahun 2011, 2016, dan 2021.

Namun, siklus pembaruan otomatis ini, seharusnya dimulai kembali pada Senin, 13 April 2026. Dengan memperhatikan situasi geopolitik yang tidak menguntungkan Italia, resmi menghentikan perpanjangan otomatis tersebut. 

Italia kini menegaskan posisi politiknya terhadap pemerintah Israel, terutama setelah serangan berulang terhadap Kontingen Italia di pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di perbatasan Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon atau (UNIFIL). Selain itu Italia menilai pelanggaran hukum internasional terus terjadi oleh militer Israel di wilayah Timur Tengah.

Dokumen Rahasia Bocor! AS Ingin Akses Udara Militer di Indonesia?
© 2026 Konten oleh Kontan

Sanksi Persenjataan dan Tekanan Ekonomi

Perdana Menteri Meloni menegaskan bahwa Langkah Italia ini merupakan kelanjutan dari kebijakan ketat yang dia ambil sejak 7 Oktober 2023. Saat itu, Roma telah memblokir seluruh kontrak baru dan menghentikan ekspor bahan persenjataan ke Israel, kecuali untuk kontrak yang sudah berjalan, menyusul pembantaian massal oleh militer Israel di Jalur Gaza Palestina.

"Dalam posisi kita saat ini, kita harus melakukan segala upaya untuk menstabilkan situasi dan memajukan negosiasi perdamaian," tegas Meloni. Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz demi stabilitas pasokan energi dan logistik global yang mulai goyang akibat ketidakstabilan di Timur Tengah.

Terkait posisi strategis Italia di blok Barat, Meloni menekankan bahwa meski Amerika Serikat tetap menjadi sekutu Utama. Ia menyatakan Italia tidak akan ragu untuk menunjukkan sikap berseberangan dengan Amerika. 

"Ketika Anda adalah sekutu strategis, Anda harus memiliki keberanian untuk menyatakan ketidaksetujuan. Itulah yang saya lakukan saat ini terhadap situasi internasional yang tidak bisa lagi diterima," pungkasnya.

Baca Juga: Iran Alokasikan Pendapatan Minyak untuk Rekonstruksi Pasca Serangan AS-Israel