Jababeka rogoh kocek Rp 1,3 triliun untuk Kendal



SEMARANG. Perlahan tapi pasti, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk mulai merealisasikan mimpi mengoperasikan kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. Emiten tersebut bermaksud menandai pembangunan 100 hektare (ha) lahan di Kawasan Industri Kendal (KIK).

Lahan 100 ha tersebut merupakan bagian dari 860 ha lahan pengembangan tahap I. Sejatinya, total area yang ingin Jababeka kembangkan seluas 2.700 ha. Mengingat area yang luas, proses pembangunan pun bertahap.

Sebanyak 20 investor atau perusahaan sudah meneken perjanjian bisnis untuk membeli 100 ha lahan tadi. Mereka berasal dari berbagai sektor. Komposisinya, 70% perusahaan asing dan 30% perusahaan lokal.


Tedjo Budianto Liman, Presiden Direktur PT Kawasan Industri Jababeka Tbk menjelaskan, satu dari 20 perusahaan tersebut bahkan siap mengoperasikan bisnis di KIK. Adapun, perusahaan tersebut bergerak dalam bisnis furnitur. Sementara 19 perusahaan lain masih harus menunggu pengembangan lahan pesanan mereka di KIK rampung.

Sejauh ini, pengembangan KIK meliputi mengembangkan infrastruktur dasar. Sebut saja, jalan, pengairan, pembangkit listrik, pengolahan air bersih, pengolahan air limbah dan sarana penyediaan gas.

Perlu diketahui, pengembangan KIK melibatkan mitra bisnis asal Singapura ,yaitu Sembcorp Development Ltd. Jababeka dan Sembcorp membuat joint venture alias kerjasama permodalan, dengan porsi 51% saham Jababeka dan sisanya 49% saham Sembcorp.

Proses pembangunan KIK sudah berlangsung mulai tahun 2012. Sejak membangun empat tahun silam itu, Jababeka sudah menggelontorkan dana investasi Rp 1,3 triliun. "Dan angka yang hampir sama, untuk uang yang telah Sembcorp keluarkan untuk proyek ini," terang Budianto dalam konferensi pers di Semarangm Jawa Tengah, Minggu (13/11).

Menurut rencana yang sudah disusun, pembangunan KIK bakal terbagi dalam sejumlah klaster khusus, mulai dari industri hulu hingga hilir. Jababeka memprediksi pengerjaan KIK tahap I seluas 860 ha tadi, paling cepat rampung tahun 2020.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui, Jawa Tengah belum optimal menyerap investor. Makanya, dia berharap kehadiran KIK bisa memberikan efek gulir bagi perekonomian Jawa Tengah.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yakin, kawasan industri bisa mempermudah investor berinvestasi. "Jangan sampai produk industri terlalu lama karena logistik, sementara Tanjung Mas adalah pelabuhan yang dipakai untuk logistik industri dari Kendal," kata Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini