Jack Taylor: Diversifikasi usaha dan bertahan (4)



Dalam dunia bisnis, membangun usaha menjadi besar memang tidak mudah. Namun, mempertahankan bisnis tetap membutuhkan usaha keras. Banyak perusahaan bangkrut karena bertahan di zona nyaman tanpa inovasi. Jack Taylor mencoba bisnis nonotomotif ketika bisnis kendaraan melesu. Dengan prinsipnya mengutamakan konsumen, pria berusia 89 ini berhasil mempertahankan dan semakin membesarkan aset. Hingga kini asetnya tercatat US$ 10,4 miliar.

Awalnya, seperti dilansir Funding Universe, diversifikasi usaha tersebut sekadar kebetulan. Kala itu, pada 1974, ekspansi industri penyewaan mobil terkendala krisis energi.

Meski Enterprise tetap bisa mencetak untung, kondisi ekonomi mempengaruhi bisnis Taylor. Kesulitan ini yang memberikan inspirasi bagi Taylor mendiversifikasi usaha.


Diversifikasi pertama jatuh pada bisnis kopi. Taylor jatuh cinta dengan Keefe Coffee Company yang menyuplai jasa pelayanan kopi pada kamar tamu hotel. Diversifikasi ini yang mengawali berdirinya Enterprise Capital Group.

Sasaran selanjutnya, Taylor membidik produsen permen yang menjual ke hotel, dengan kemasan sesuai pilihan pemesan. Dia mengumpulkan dua bisnis ini dalam perusahaan bernama Monogramme Confections.

Tak puas dengan dua anak usaha, Taylor kembali menggaet perusahaan lain untuk dimasukkan pada grup nonotomotif. Adalah Courtesy Coffee, sebuah perusahaan penyedia jasa layanan kopi, serta Crawford Supply, penyedia jasa fasilitas penjara. Kedua perusahaan barunya itu membuat Enterprise kian sukses.

Layaknya usaha inti, perusahaan diversifikasi menyumbang pendapatan di tengah krisis energi.

Keberhasilan bisnis baru Taylor tak lepas dari prinsipnya mengutamakan konsumen. Dia menciptakan sebuah rekening bernama customer giveaway account.

Lewat rekening ini, karyawan Enterprise Rent-A-Car dimungkinkan membebaskan biaya hingga batas tertentu demi memuaskan pelanggan. Karyawan pun mendapat kompensasi atas kerja kerasnya lewat pemberian bonus dari atasannya langsung.

Sistem pelayanan konsumen meningkat pada era 1980 dengan pembukaan pusat pemesanan nasional. Konsumen bisa menelepon nomor bebas pulsa untuk memesan mobil Enterprise dari seluruh dunia.

Sukses dengan akuisisi, Enterprise kembali pada basis usahanya, yaitu otomotif. Seperti dilansir Harian The Times + 100, miliarder berkekayaan US$ 10,4 miliar versi Majalah Forbes itu lalu melebarkan unit bisnis otomotifnya menjadi empat lini. Yaitu, Enterprise Rent-A-Car, Enterprise Fleet Management, Enterprise Car Sales, dan Enterprise Rent-A-Truck.

Taylor sadar, tidak bisa terus hanya bergantung pada bisnis penyewaan kendaraan. Apalagi, persaingan semakin ketat. Di sisi lain, dia harus tetap menangkap kebutuhan konsumen.

Usaha inti, unit penyewaan mobil, tetap ditawarkan. Bermodalkan layanan eksklusif mobil buatan General Motor, untuk jangka pendek seperti liburan atau ketika mobil dalam perbaikan. Enterprise mendapat sambutan dari para pelanggannya. Apalagi, kala itu, pihak asuransi memberikan kompensasi selama kendaraan pribadinya diperbaiki di bengkel.

Alhasil, perusahaan memimpin pasar pelayanan eksklusif sementara kompetitor sibuk mengejar pasar penyewaan kendaraan di bandara. Seperti tertulis pada laman Enterprise, bisnis lainnya pun berkembang pesat. Lewat kepemilikan 200.000 unit, Enterprise Fleet Management menjadi divisi bisnis utama. Bahkan, bisnis penjualan mobil bekasnya pun berkembang.

November tahun lalu, seperti tertulis di Wikipedia, perusahaan berminat mengakuisisi Citer SA, perusahaan sejenis asal Prancis yang mengelola 30.000 armada. Akuisisi anak usaha Atesa ini memungkinkan Enterprise memperluas jaringan usahanya di Paris dan Spanyol.

Dalam website Enterprise disebutkan, perusahaan memiliki 1,2 juta unit mobil, dan kantor yang tersebar di 6.000 titik, termasuk bandara.

(Selesai)