Jadi Identitas Budaya, Jemaah Haji Asal Gunungkidul Kompak Kenakan Blangkon



KONTAN.CO.ID - MADINAH. Ada pemandangan menarik di tengah prosesi ibadah haji di Tanah Suci tahun ini. Jemaah haji asal Kabupaten Gunungkidul yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) YIA 10 tampil ikonik dengan balutan blangkon khas Yogyakarta di kepala mereka.

Langkah mengenakan penutup kepala tradisional ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tradisi yang sarat akan makna filosofis dan strategi praktis selama menjalankan ibadah haji.

Menurut Saban Nuroni, pendamping dari KBIHU Muslimat NU, penggunaan blangkon oleh jemaah Gunungkidul ini bukanlah hal baru. Inisiatif ini sudah dimulai sejak tahun 2017 sebagai upaya untuk membawa identitas budaya lokal ke kancah internasional. 


Baca Juga: Dirjen Bea Cukai Terseret Kasus Korupsi, Menkeu Purbaya Tunggu Proses Hukum

"Blangkon adalah ikon Yogyakarta. Kami ingin membawa semangat budaya sekaligus memudahkan koordinasi antar jemaah di tengah jutaan umat dari seluruh dunia," ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Di balik bentuknya yang unik, blangkon menyimpan pesan religius yang mendalam bagi para jemaah. Salah satunya 17 lipatan yang melambangkan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari semalam. Kemudian punukan di bagian belakang blangkon mengajarkan jemaah untuk menyimpan rapat-rapat aib atau perbedaan pendapat, bukannya diumbar di depan publik. 

"Desain bagian depan yang tersingkap sangat fungsional untuk ibadah, karena memastikan kening dapat menempel sempurna pada sajadah saat bersujud tanpa terhalang," ungkapnya.

Selain aspek filosofis, blangkon seolah menjadi 'GPS visual' yang sangat efektif. Dengan warna dan bentuk yang mencolok dibanding sorban atau peci pada umumnya, jemaah yang sempat terpencar saat keluar dari Masjidil Nabawi akan lebih mudah mengenali rombongannya. 

"Sangat membantu untuk mengenali kawan jika terpisah. Dari jauh sudah kelihatan kalau itu rombongan kita," tambah Saban.

Rencananya, blangkon ini akan terus dikenakan jemaah dalam berbagai aktivitas ibadah, termasuk saat memasuki puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Total ada sekitar 103 jemaah haji dari YIA 10 yang tergabung dalam KBIHU Muslimat NU. Dari jumlah itu 40 jemaah merupakan laki-laki yang sehari-hari kini menggunakan blangkon selama di Tanah Suci.

Baca Juga: Nenek Jumaria Asal Maros Viral Jadi Ikon Makkah Route Arab Saudi

Melalui blangkon, jemaah Gunungkidul membuktikan bahwa kearifan lokal dapat berjalan selaras dengan kekhusyukan ibadah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News