Jadi member bursa, AMIN pede bisa tumbuh 15%



JAKARTA. Emiten yang baru melantai di bursa PT Ateliers Mecaniques D'Indonesie Tbk (AMIN) menargetkan kinerja tahun depan tumbuh 15%.

Perseroan optimistis tahun depan bisa tumbuh lantaran masih banyak pasar di industri perkebunan yang bisa digarap.

Direktur AMIN, Lindataty mengatakan total pendapatan perseroan tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 160 miliar dan laba bersih diproyeksi Rp 17 miliar.


"Tahun depan ditargetkan tumbuh 15% dari proyeksi kinerja tahun ini," katanya di Jakarta, Kamis (10/12).

Dengan begitu, emiten ke-16 yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini membidik pendapatan sekitra Rp 184 miliar dan laba bersih Rp 19,5 miliar tahun depan.

AMIN merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur dan perakitan mesin industri dengan memproduksi berbagai jenis boiler, auxiliary dan memberikan jasa layanan boiler.

Boiler berfungsi menghasilkan uap kering dengan suhu, tekanan dan besaran laju aliran tertentu menuju turbin uap.

Ini digunakan untuk berbagai jenis industri salah satunya untuk pengolahan kelapa sawit.

Rudy Sutanto, Direktur Utama AMIN mengatakan, prospek penjualan broiler tahun depan masih cukup besar karena pasarnya masih cukup besar.

Pasalnya, perseroan mendapat adanya data penambahan 10 juta hektare (ha) kebun sawit siap panen hingga 2020 yang membutuhkan sekitar 1.800 unit pabrik.

Sementara saat ini pabrik sawit baru terdapat 700 unit, sehingga dalam lima tahun ke depan akan ada penambahan 1.100 an unit pabrik sawit.

Lebih lanjut, Rudy menjelaskan bahwa broiler merupakan kebutuhan utama dalam industri pengolehan kelapa sawit. Setiap pabrik membutuhkankan minimal dua broiler. " Oleh karena pangsa pasar kita masih besar. Ada Sekitar 440 unit pasar yang bisa kita incar setiap tahunnya," jelas Rudy.

Tahun ini, AMIN telah berhasil menjual 10 unit broiler.

Perseroan menargetkan penjualan tersebut bisa tumbuh 15%.

Sementara, total kapasitas produksi pabrik yang dimiliki perseroan saat ini di Tanjung Morawa, Sumatera Utara mencapai 40 unit setiap tahunnnya.

AMIN telah resmi melantai di bursa pada 10 Desember 2015.

Perseroan berhasil mengantongi dana Rp 30,72 miliar dengan melepas saham perdana (IPO) sebanyak 240 juta lembar saham atau 22,22% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp 128 per saham.

Sekretaris Perusahaan Panin Sekuritas, Prama Nugraha mengatakan penawaran saham perdana AMIN mengalami oversubcribe hingga 3,5 kali.

Sebagian besar saham IPO tersebut diserap oleh investor retail yakni sekitar 60%.

Sedangkan komposisi investor domestik masih lebih besar dibanding asing dengan yakni 60%:40%.

Adapun investor asing berasal dari Asia salah satunya dari Malaysia.

Prama mengatakan, minat asing terhadap saham AMIN cukup positif karena price earning (PE) yang ditawarkan 8,5 kali, masih lebih menarik dibanding dengan perusahaan sejenis yang ada di Malaysia.

Sebagian besar atau sebanyak 68% dana IPO AMIN akan digunakan untuk pembayaran utang kepada HSBC dan sisanya 32% akan digunakan untuk modal kerja perseroan dalam rangka pembuatan produk-produk boiler maupun auxiliary atas pesanan pelanggan.

Rudy mengatakan, posisi utang MAIN per akhir Mei 2015 mencapai Rp 40 miliar.

Selain dari dana IPO, utang tersebut akan dilunasi dari hasil kegiatan operasional perseroan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto