Jaga harga, produksi karet diturunkan 12,6%



JAKARTA. Demi menjaga stabilitas harga supaya tidak jatuh, pemerintah akan menurunkan target produksi karet sebesar 12,6% mulai tahun 2013 dibandingkan produksi tahun ini. Tercatat oleh pemerintah, tahun ini produksi karet Indonesia mencapai 3,04 juta ton.

Artinya, tahun 2013 mendatang, produksi karet Indonesia akan diturunkan menjadi 2,77 juta ton saja. Selain menjaga, harga Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian mengatakan, penurunan produksi sesuai komitmen bersama negara penghasil karet lainnya, yakni Malaysia dan Thailand.

"Kami (Indonesia) berusaha untuk mematuhi kesepakatan yang tergabung di dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC), kalau kapasitas produksi kita bisa lebih dari 3 juta ton," kata Rusman, Rabu (26/12).


Seperti diketahui, beberapa waktu lalu , tiga negara produsen karet terbesar dunia yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand telah mencapai kesepakatan memperbaiki harga karet alam dengan cara menerapkan pengurangan ekspor hingga 300.000 ton.

Pengurangan volume ekspor karet ini akan mulai berlaku sejak Oktober 2012 sampai Maret 2013. Kesepakatan ini diumumkan tanggal 16 Agustus 2012 itu sukses meningkatkan harga karet ( Daily Composite Price,  atau gabungan rata-rata harga di ketiga negara) dari US$ 2,54 per kg menjadi sekitar US$ 2,9 per kg pada awal Desember 2012.

Rusman melanjutkan, untuk terus menjaga stabilitas harga karet, ITRC akan menggandeng Vietnam. Pasalnya, menurut Rusman, produksi karet Vietnam sudah menyamai Indonesia. Sehingga jika digabungkan, empat negara yakni Indonesia, Thailand, Malaysia dan Vietnam bisa menguasai 80% pasar karet dunia. "Ini bukan persoalan kartel, tetapi kita harus menjaga petani di negara masing-masing," kata Rusman.

Sayangnya, kata Rusman, usulan tersebut belum diterima Vietnam. "Mereka tidak menolak tetapi mereka bilang masih mempelajarinya," kata Rusman.

Rencananya, kata Rusman, pemerintah Indonesia akan membawa isu karet di dalam tingkat ASEAN. Alasannya, selain Vietnam, beberapa negara anggota ASEAN seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar yang juga memproduksi karet. "Jadi mimpinya adalah ASEAN rubber council, harus ada dorongan dari kepala negara," papar Rusman.

Berdasarkan data ITRC, total produksi karet dari  tiga negara terbesar ini mencakup 67% dari total produksi dunia, dan ekspornya  sebesar 86% dari total ekspor dunia. Produsen  karet alam Indonesia sebagian besar adalah petani yang berjumlah sekitar 2,1 juta orang, yang menguasai  85% luas areal karet alam nasional.

Pada tahun 2011, Indonesia menghasilkan karet alam sekitar 3 juta ton atau  27% dari total produksi  ITRC.  Sebanyak 85% dari total produksi karet alam nasional Indonesia diekspor dengan nilai mencapai lebih dari US$ 11,7 miliar pada tahun 2011.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Asnil Amri