Jaguar Land Rover Pangkas 4.000 Pekerja di Tengah Tekanan Industri Otomotif



KONTAN.CO.ID - LONDON. Jaguar Land Rover (JLR) akan memangkas sekitar 4.000 posisi pekerjaan dalam dua tahun ke depan melalui program pengunduran diri sukarela. Langkah tersebut dilakukan ketika industri otomotif global menghadapi tekanan yang semakin besar, mulai dari persaingan produsen China hingga dampak tarif perdagangan.

Produsen mobil mewah asal Inggris yang dimiliki oleh Tata Motors tersebut memperkirakan pengurangan tenaga kerja itu dapat menghasilkan penghematan sekitar £1,7 miliar atau sekitar US$2,30 miliar. JLR juga menargetkan penurunan titik impas bisnis ke sekitar 300.000 kendaraan.

JLR saat ini mempekerjakan sekitar 43.000 orang di seluruh dunia, termasuk sekitar 34.000 pekerja di Inggris. Namun, perusahaan belum merinci lokasi pekerjaan yang akan terdampak oleh program pengurangan tenaga kerja tersebut.


"Industri otomotif menghadapi tantangan yang signifikan, dengan perubahan teknologi di tengah persaingan yang ketat dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung," kata Chief Executive Officer JLR PB Balaji dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: BYD Targetkan Ekspor 2,5 Juta Mobil Listrik pada 2027, Ini Strateginya

Tekanan terhadap industri otomotif juga dirasakan oleh produsen kendaraan lainnya. Pekan lalu, Volkswagen menyetujui rencana untuk memangkas tambahan 50.000 pekerjaan sebagai bagian dari upaya perusahaan menghadapi dampak tarif, kelebihan kapasitas produksi, serta persaingan agresif dari produsen mobil China.

JLR Fokus Pangkas Biaya

JLR menyatakan program pengurangan tenaga kerja terutama akan menyasar sekitar 26.000 karyawan yang bekerja dalam posisi bergaji tetap dan manajemen.

Perusahaan mengatakan penyederhanaan struktur organisasi diperlukan untuk menghasilkan penghematan sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis menghadapi kondisi pasar yang penuh tekanan.

Selain melakukan efisiensi, JLR tetap berencana meluncurkan lima produk baru dalam 12 bulan ke depan. Perusahaan juga akan mempertahankan rencana investasi sebesar £15 miliar hingga £18 miliar selama lima tahun mendatang.

Investasi tersebut akan diarahkan pada elektrifikasi kendaraan, teknologi digital, manufaktur canggih, serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Langkah efisiensi JLR terjadi setelah perusahaan sebelumnya menghadapi dampak besar akibat serangan siber yang menyebabkan penghentian produksi dalam waktu cukup lama dan mengganggu rantai pasok pada 2025.

Baca Juga: Impor Batubara China Turun 2% pada Agustus, Pasokan Domestik Mulai Stabil

Jadi Tantangan bagi Pemerintah Inggris

Rencana pengurangan ribuan pekerjaan tersebut menjadi pukulan bagi pemerintah Inggris yang tengah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang masih lambat.

Menteri Keuangan Inggris John Healey menyampaikan pidato hanya beberapa mil dari kantor pusat JLR di Coventry pada Senin (7/9). Dalam pidatonya, Healey berupaya menyampaikan prospek ekonomi yang lebih positif menjelang anggaran pemerintah yang diperkirakan berlangsung ketat pada akhir Oktober.

Menteri Bisnis Inggris Jonathan Reynolds juga telah berbicara dengan PB Balaji pada Senin. Reynolds dijadwalkan bertemu dengan pihak perusahaan dan serikat pekerja pada pekan ini.

"​Kami memahami bahwa ini akan menjadi masa yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran bagi para pekerja yang terdampak, keluarga mereka, serta masyarakat luas. Kami juga mengetahui bahwa kondisi pasar saat ini menjadi tantangan bagi sektor otomotif secara global," ujar juru bicara Perdana Menteri Andy Burnham.

Untuk membantu pekerja yang memilih mengambil program pengunduran diri sukarela, Wali Kota Richard Parker mengumumkan paket dukungan senilai £500.000.