KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadapi perubahan komposisi investor di tengah meningkatnya aksi jual asing yang menekan harga saham perseroan. Untuk menjaga stabilitas kepemilikan saham, BCA kini lebih agresif membidik investor asing dengan orientasi jangka panjang. Presiden Komisaris BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, porsi kepemilikan asing pada saham publik BCA terus menurun. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut menekan harga saham BCA.
BCA memiliki sekitar 42% saham yang beredar di publik. Dari porsi tersebut, kepemilikan investor asing sebelumnya mencapai sekitar 78%, namun kini turun menjadi sekitar 68%. "Investor asing yang kita mau adalah investor
long term holders," tegas Jahja dalam acara
Navigating The Economy Across Generation di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Terbanyak Dijual Asing, Harga Saham BBCA Kamis (6/8) Turun 1,5%, Saatnya Beli / Jual? Menurut Jahja, penurunan kepemilikan asing terjadi ketika investor domestik, terutama ritel, belum mampu sepenuhnya menyerap aksi jual dari investor asing. Di sisi lain, jumlah pemegang saham ritel BCA memang meningkat cukup pesat, dari sekitar 400.000 investor menjadi lebih dari 700.000 investor. Namun, pertumbuhan investor ritel tersebut belum cukup untuk menahan tekanan jual ketika investor asing melepas saham BCA dalam jumlah besar. Alhasil, perubahan komposisi investor ikut memberikan tekanan terhadap harga saham perseroan. Karena itu, BCA tidak sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pemegang saham, tetapi berupaya membangun basis investor yang memiliki komitmen untuk memegang saham dalam jangka panjang.
Jahja menyebut perusahaan asuransi, dana pensiun, hingga dana sosial sebagai contoh investor yang sesuai dengan karakter tersebut. Investor seperti ini dinilai memiliki kebutuhan terhadap arus kas yang stabil dan cenderung tidak melakukan transaksi jangka pendek. Untuk mempertahankan investor jangka panjang tersebut, BCA menyiapkan strategi pembagian dividen interim secara berkala. Perseroan membagikan dividen interim setiap tiga bulan, yakni pada Juni, September, dan Desember. Strategi tersebut memberikan daya tarik tambahan bagi investor institusi untuk mempertahankan kepemilikan saham BCA. Selain mengandalkan potensi kenaikan harga saham, investor mendapatkan arus kas secara berkala dari dividen yang dibagikan perseroan.
Baca Juga: Booming Data Center Mengerek Harga Saham Emiten Kabel Jahja mengatakan, skema tersebut mendapat respons positif dari investor jangka panjang. Dengan adanya arus kas berkala, investor memiliki alasan lebih kuat untuk tetap mempertahankan saham BCA meski terjadi volatilitas di pasar.
Dengan demikian, strategi BCA dalam menghadapi perubahan komposisi pemegang saham tidak hanya mengandalkan peningkatan jumlah investor ritel. Perseroan juga berupaya memperkuat basis investor institusi yang berorientasi jangka panjang melalui kebijakan dividen yang memberikan arus kas rutin. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BCA menjaga basis pemegang sahamnya agar tidak terlalu rentan terhadap tekanan jual ketika investor asing melakukan aksi jual. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News