Jalan tol banjir, pengusaha merugi miliaran rupiah



JAKARTA. Banjir yang menggenangi ruas jalan tol Jakarta-Merak pada kilometer (KM) 57-58 membuat rugi pengusaha. Sebab, meski banjir yang sempat mencapai ketinggian mencapai 1,5 meter itu menganggu arus distribusi barang.Arman Yahya, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengaku, sejak Minggu (15/1) kemarin, para anggota ALFI sudah merugi Rp 2 miliar. "Angka kerugian diperkirakan dari biaya untuk membayar jasa keamanan, bensin, dan waktu kerja para kru armada," ujar Arman kepada KONTAN, Senin (16/1). Kemacetan yang parah membuat truk muatan berhenti. Lantaran para supir tidak berani meninggalkan muatan, mereka pun akhirnya membayar jasa keamanan.Biaya tambahan ini jelas mengecewakan pengusaha. Pasalnya, mereka sengaja memilih jalur darat untuk menekan biaya transportasi. Demi menghindari kerugian, pengusaha pun menyesuaikan biaya tambahan ini ke harga jual barang. "Tentu kalau harga jual naik, akan merugikan konsumen," ujarnya.

Potensi kerugian konsumen juga berasal dari barang yang membusuk, seperti pengiriman daging segar ke hotel-hotel yang ada di Palembang. Arman memandang, biaya-biaya tak terduga seperti ini tidak mungkin terjadi andai pemerintah tanggap banjir. Sayang, selama ini pemerintah lebih bersifat reaktif ketimbang mencegah banjir. Seharusnya, pemerintah bisa mencegah banjir dengan cara memperbaiki rongga-rongga aliran air di bawah jalan tol.Selain itu, ALFI juga melobi pemerintah agar mempercepat pembuatan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. "Itu akan memperbaiki kinerja transportasi darat kita," ujarnya.Sementara itu, Mahendra Rianto, Manajer Pengembangan Bisnis PT Cardig Logistic Indonesia mengungkapkan, kerugian yang dialami perusahaan akibat banjir di tol Merak mencapai Rp 1,6 miliar per hari. Angka itu dihitung dari nilai angkutan sekali perjalanan yang sekitar Rp 200 juta. Dalam sehari, Cardig bisa melakukan delapan kali perjalanan. Barang-barang yang diangkut Cardig meliputi barang konsumer, produk telekomunikasi, dan barang elektronik. Ia mengaku sudah memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk segera mengoptimalkan kapal laut. Sebagai perbandingan, bila menggunakan jalur darat, pengangkutan 1.000 kontainer membutuhkan 1.000 truk. Padahal bila menggunakan jalur laut, 1.000 kontainer bisa diangkut dengan satu kapal saja. Dalam sebulan, Cardig melakukan 1.000 pengiriman barang dengan muatan 15 ton per perjalanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Asnil Amri