KONTAN.CO.ID - LONDON. Lonjakan harga emas global ke level yang nyaris menyentuh rekor membuat pasar jam tangan mewah mengalami fenomena tak biasa. Sejumlah jam tangan emas kini justru dilebur karena nilai kandungan logamnya lebih tinggi dibanding harga jual di pasar sekunder. Laporan
Reuters menyebutkan, tren ini terutama menimpa jam tangan bekas dari merek seperti Omega dan TAG Heuer, yang dinilai tidak memiliki nilai koleksi setinggi merek ultra-eksklusif. Sejumlah pedagang dan pelaku industri mengatakan, ketika harga emas melonjak tajam akibat ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran perdagangan global, nilai “
scrap gold” dari jam tangan tertentu justru melampaui harga lelang atau pasar bekasnya.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Dipicu Optimisme Kesepakatan Damai AS-Iran Salah satu contoh terjadi pada model Omega Constellation berbahan emas 18 karat, yang nilai kandungan emasnya mencapai sekitar £ 5.750, atau sekitar 35% lebih tinggi dibanding harga lelang yang hanya di kisaran £ 4.000–£ 4.500. Kondisi ini membuat sebagian dealer memilih melebur unit jam tersebut. “Dalam kondisi seperti ini, nilai logamnya lebih menarik daripada nilai jamnya sebagai barang koleksi,” ujar seorang pedagang yang juga mengelola rumah lelang di Inggris. Fenomena ini juga tidak hanya terjadi pada jam bekas. Beberapa laporan industri menyebutkan jam-jam baru yang tidak laku di pasar bahkan ikut dilebur karena
oversupply, terutama dari produksi massal industri Swiss. Harga emas sendiri sempat melonjak hingga sekitar US$ 5.600 per ons pada Januari 2026 sebelum bergerak stabil di kisaran US$ 4.200 per ons, hampir dua kali lipat dibanding rata-rata tahun sebelumnya, menurut data industri logam mulia. Di sisi lain, jam tangan dengan produksi terbatas tetap mempertahankan nilai tinggi. Merek seperti Rolex, Patek Philippe, dan Audemars Piguet masih mencatat premi harga tinggi di pasar sekunder, bahkan dengan daftar tunggu pembelian yang bisa mencapai dua hingga delapan tahun. Menurut pelaku pasar, dominasi merek-merek tersebut terjadi karena produksi yang ketat dan pengendalian distribusi yang ketat, sehingga harga jualnya jauh di atas nilai kandungan material.
Baca Juga: China Tak Puas dengan Langkah Pentagon Terhadap Perusahaan Teknologi Top China Sebaliknya, merek yang lebih mass-market seperti Omega atau TAG Heuer cenderung lebih rentan terhadap depresiasi harga setelah pembelian pertama, sehingga lebih sering masuk kategori “scrap value” ketika harga emas naik. Sementara itu, perusahaan induk industri jam Swiss seperti Swatch Group, LVMH, dan Richemont belum memberikan komentar resmi terkait tren peleburan jam tangan ini. Pelaku industri menilai fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku pasar: jam tangan mewah tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol status, tetapi juga aset yang nilai ekonominya sangat dipengaruhi oleh harga komoditas global. “Sayang sekali, karena begitu dilebur, jam itu hilang selamanya,” ujar seorang sejarawan horologi, menyoroti risiko hilangnya artefak bernilai sejarah akibat tekanan harga emas yang tinggi.