KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Profitabilitas industri penjaminan menghadapi tekanan seiring dengan meningkatnya beban klaim yang lebih tinggi dibandingkan imbal jasa penjaminan (IJP). Kondisi ini tecermin dari laba industri penjaminan yang menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun sekitar 20% pada Juli 2026. Direktur Utama PT Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Sumatra Barat (Perseroda) atau PT Jamkrida Sumbar Ibnu Fadhli mengungkapkan tekanan terhadap laba tidak lepas dari meningkatnya risiko klaim, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, OJK mencatat nilai klaim industri penjaminan mencapai Rp4,45 triliun per Juli 2026 atau meningkat 20,87%
year on year (YoY). Sementara itu, IJP hanya tumbuh sekitar 8% pada periode yang sama.
Baca Juga: Asuransi Perjalanan Perkuat Strategi di Tengah Kenaikan Biaya Penerbangan "Pertumbuhan beban klaim sangat tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan IJP, sehingga hal tersebut langsung berdampak pada penurunan laba," ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9/2026). Menurutnya, kondisi tersebut membuat perusahaan penjaminan perlu memperkuat strategi pengelolaan portofolio dan mitigasi risiko agar pertumbuhan bisnis tetap diikuti dengan kualitas penjaminan yang sehat. Oleh karena itu, ada beberapa upaya yang disiapkan Jamkrida Sumbar untuk mendorong peningkatan profitabilitas. Pertama adalah dengan memperbesar porsi penjaminan produk
suretyship, yaitu Kontrak Bank Garansi dan Surety Bond karena keduanya merupakan produk penjaminan jangka pendek, tetapi memiliki tarif IJP yang cukup tinggi. Kedua dengan mengurangi porsi penjaminan pada segmen yang berisiko tinggi. Kemudian, berkomunikasi dengan perbankan untuk melakukan langkah restrukturisasi kredit. Dari sisi mitigasi risiko, perusahaan memperkuat kualitas analisis dan proses penerimaan penjaminan sebelum sertifikat penjaminan diterbitkan. Pengawasan internal juga terus ditingkatkan untuk menjaga kualitas penjaminan. Selain itu, perusahaan memaksimalkan penagihan subrogasi terhadap klaim yang telah dibayarkan.
Baca Juga: Bisnis Asuransi Perjalanan Asei Masih Positif, Ini Sentimen Penghambatnya Upaya tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pemulihan dana setelah perusahaan memenuhi kewajibannya atas klaim penjaminan. Dengan sejumlah strategi tersebut, Jamkrida Sumbar berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas penjaminan, dan profitabilitas di tengah meningkatnya risiko klaim pada industri penjaminan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News