Jamkrida Sumbar Sebut Nilai IJP Sektor Produktif Tumbuh 8% per Mei 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Sumatra Barat (Perseroda) atau PT Jamkrida Sumbar mencatatkan kinerja positif terkait Imbal Jasa Penjaminan (IJP) sektor produktif.

Direktur Utama PT Jamkrida Sumbar Ibnu Fadhli menerangkan nilai IJP yang telah dibukukan di sektor produktif mencapai Rp 24,7 miliar hingga Mei 2026. 

"Nilainya tumbuh 8%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu," ucapnya kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).


Ibnu mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan volume penjaminan. Adapun nilai volume penjaminan yang telah dibukukan Jamkrida Sumbar mencapai Rp 515 miliar per Mei 2026. Nilainya tumbuh sebesar 6%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Baca Juga: Harga Saham Perbankan Lesu: Buyback Triliunan Rupiah Jadi Bantalan Investor?

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjaminan pada sektor-sektor produktif yang masih memiliki prospek baik," tuturnya.

Lebih lanjut, Ibnu membeberkan sejumlah tantangan dan peluang yang dapat memengaruhi bisnis Jamkrida Sumbar hingga akhir tahun ini. Dia menambahkan, tantangan utama terletak pada pengelolaan rasio klaim agar tidak menggerus modal, terutama jika terjadi guncangan daya beli pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Selain itu, Ibnu bilang mendominasinya penjaminan kredit saat ini juga memberikan tantangan. Salah satu tantangannya adalah mempercepat inovasi ke arah penjaminan digital.

"Ditambah, perlunya mendorong produk penjaminan nonkredit lainnya untuk menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang," ujar Ibnu.

Dari sisi peluang bisnis, Ibnu menyampaikan pihaknya akan terus melakukan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menjadi potensi utama bisnis penjaminan. Selain itu, Jamkrida Sumbar juga membidik peluang penjaminan non-KUR yang memperlihatkan tren penguatan. 

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Informasi Bantuan Dana Hibah Satu Setengah Miliar Rupiah Itu Hoaks

"Khususnya, dari segmen penjaminan suretybond untuk proyek-proyek strategis pemerintah maupun swasta," kata Ibnu.

Dalam menjaga kinerja, Ibnu mengatakan, pihaknya akan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan profitabilitas melalui penerapan tarif yang sesuai dengan profil risiko. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: