KONTAN.CO.ID - Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve dan Bank of England (BoE) dilaporkan meminta informasi dari sejumlah bank global mengenai eksposur mereka terhadap perusahaan trading besar. Langkah ini dilakukan setelah gejolak pasar pada Juli 2026 memicu kerugian besar di perusahaan
proprietary trading Jane Street. Mengutip
Financial Times, Senin (21/9/2026), kedua bank sentral tersebut meminta informasi terkait tingkat toleransi risiko perusahaan trading, perubahan eksposur bank sepanjang sesi perdagangan, serta mekanisme pengendalian risiko yang diterapkan.
Baca Juga: Mbappe Sebut Dilatih Zinedine Zidane di Timnas Prancis seperti Cerita Film Langkah tersebut dilakukan setelah
hedge fund Situational Awareness, yang berfokus pada investasi kecerdasan buatan (AI) dan dikelola mantan peneliti OpenAI Leopold Aschenbrenner, mengalami tekanan akibat aksi jual tajam saham AI dan semikonduktor pada Juli.
Situational Awareness kemudian terpaksa menjual sebagian besar portofolio saham publiknya kepada Citadel. Gejolak tersebut turut menyebabkan Jane Street mengalami kerugian sekitar US$15 miliar pada Juli. Kerugian tersebut terutama berkaitan dengan investasinya di
hedge fund tersebut dan sejumlah kepemilikan di sektor teknologi.
Reuters belum dapat memverifikasi laporan Financial Times tersebut. Federal Reserve dan Bank of England menolak memberikan komentar, sementara Jane Street belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar
Reuters. Baca Juga: PASAR GLOBAL - Saham Teknologi Naik Didorong Demam AI, Harga Minyak Kembali ke US$100 SEC ikut menyelidiki Pengawasan terhadap aktivitas
Situational Awareness juga dilakukan oleh Securities and Exchange Commission (SEC) AS. Pada bulan lalu, SEC mengeluarkan subpoena kepada sejumlah bank Wall Street, termasuk Goldman Sachs, JPMorgan, Citigroup, dan Bank of America. Penyelidikan tersebut berfokus pada aktivitas perdagangan dan penggunaan
leverage oleh
Situational Awareness setelah
hedge fund tersebut hampir mengalami keruntuhan.
SEC juga menelusuri transaksi yang memicu margin call serta komunikasi antara hedge fund tersebut dan para pemberi pinjaman. Perkembangan ini membuat regulator menaruh perhatian terhadap hubungan antara
hedge fund, perusahaan trading, dan bank. Salah satu fokusnya adalah bagaimana risiko dari aktivitas trading dan penggunaan
leverage dapat menyebar melalui eksposur perbankan ketika terjadi gejolak pasar.
Baca Juga: Kanada: Perundingan Dagang dengan Filipina & ASEAN Sudah 90%, Target Rampung November