Jangan Asal Pilih, Obat Penurun Berat Badan Bisa Turunkan Masa Otot



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bisnis obat penurun berat badan tampaknya semakin populer. Sejumlah perusahaan farmasi pun seolah berlomba menghadirkan produk penurun berat badan mutakhir.

Tren penggunaan obat penurun berat badan berbasis hormon terus meningkat seiring tingginya perhatian masyarakat terhadap kesehatan metabolik. Namun, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari jumlah berat badan yang turun, tetapi juga dari kemampuan menjaga massa otot.

Dilansir dari Reuters, obat tirzepatide hingga semaglutide, semakin populer untuk menurunkan berat badan. Namun, ada kekhawatiran bahwa obat-obatan ini menyebabkan hilangnya massa otot dan komponen massa tubuh tanpa lemak lainnya bersamaan dengan lemak.


Para peneliti menganalisis data dari sekitar 1.800 pasien yang menggunakan tirzepatide dan 6.200 pasien yang menggunakan semaglutide. Hasilnya, tirzepatide secara konsisten dikaitkan dengan kehilangan massa tubuh tanpa lemak yang lebih besar daripada semaglutide.

Baca Juga: Mengapa Bersin dan Batuk Harus Menutup Mulut? Ini Penjelasan yang Penting Diketahui

Menurut analisis yang dilakukan oleh perusahaan analitik data nference, pasien tirzepatide kehilangan rata-rata 1,1% lebih banyak massa tubuh tanpa lemak setelah tiga bulan dan 2% setelah 12 bulan penggunaan terus menerus.

Massa tanpa lemak, termasuk otot, memiliki peran penting dalam menjaga metabolisme tubuh, kekuatan fisik, serta daya tahan saat beraktivitas. Karena itu, kualitas penurunan berat badan kini menjadi perhatian penting dalam praktik medis.

Peneliti utama dari perusahaan analitik data kesehatan nference, Venky Soundararajan, menekankan bahwa pasien sebaiknya tidak hanya berfokus pada target penurunan berat badan semata. Menurut dia, terapi yang ideal adalah yang mampu menurunkan berat badan sekaligus menjaga komposisi tubuh tetap sehat, termasuk mempertahankan massa otot.

Studi tersebut juga mencatat bahwa pada pasien yang mengalami penurunan berat badan lebih dari 20%, sekitar 10% pengguna tirzepatide kehilangan lebih dari 5% massa tubuh tanpa lemak. Sementara itu, pada kelompok pengguna semaglutide, angkanya lebih rendah, yakni di bawah 7%.

“Ini menunjukkan bahwa pasien tidak boleh secara sederhana berpikir, ‘Saya ingin menurunkan berat badan sejumlah X dan saya akan memilih opsi yang memberikan penurunan berat badan lebih besar,’” kata Venky.

Selain itu, aktivitas fisik tetap menjadi faktor penting selama menjalani terapi. Penurunan toleransi olahraga selama pengobatan diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko kehilangan massa tanpa lemak pada kedua kelompok pasien.

Baca Juga: Campak Masih Bunuh 95.000 Orang Setahun, WHO: Vaksin Telah Selamatkan 59 Juta Nyawa

Para ahli menilai, tanpa olahraga yang cukup, terapi penurunan berat badan berpotensi menyebabkan berkurangnya massa otot secara berlebihan, yang dapat berdampak pada penurunan fungsi fisik dan kualitas hidup.

Adapun, produk tirzepatide di antaranya dipasarkan dengan merek Zepbound dan Mounjaro. Sedangkan contoh obat semaglutide adalah Wegovy.

Novo Nordisk, produsen Wegify, mengatakan bahwa berdasarkan hasil uji klinis sebelumnya, perubahan massa otot pada pengguna semaglutide tidak berbeda signifikan dibandingkan kelompok plasebo, dan fungsi fisik pasien tetap terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News