KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (
JPFA) dan PT Ciomas Adisatwa melepas kepemilikan sahamnya di PT Vaksindo Satwa Nusantara. Nilai divestasi mencapai Rp 1,8 triliun dan transaksi dilakukan kepada entitas yang masih berada dalam Grup Japfa. Transaksi tersebut dilakukan berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham (PJBS) yang ditandatangani pada 29 September 2026. Dalam transaksi ini, JPFA bersama Ciomas menjual seluruh 31.000 saham atau 100% modal ditempatkan dan disetor Vaksindo kepada Japfa Pte. Ltd. dan Bionovus Pte. Ltd. Selain saham Vaksindo, transaksi mencakup pengalihan merek dagang Vaksindo, Vaksimune, dan Vitakur yang sebelumnya terdaftar atas nama JPFA kepada Bionovus.
Baca Juga: Pemerintah Tebar Stimulus Rp 31 Triliun, Saham Consumer Ini Berpotensi Terdongkrak Sekretaris Perusahaan Japfa Maya Pradjono mengatakan salah satu pertimbangan utama divestasi adalah membuat alokasi modal perusahaan menjadi lebih efisien. Dengan melepas kepemilikan langsung di Vaksindo, JPFA tidak lagi perlu mengalokasikan komitmen modal untuk perusahaan tersebut. Hal ini dinilai sejalan dengan strategi alokasi modal jangka panjang perusahaan. Pertimbangan tersebut menjadi semakin relevan karena Vaksindo memiliki rencana ekspansi kapasitas yang terutama diarahkan ke luar Indonesia. JPFA menyebut rencana ekspansi tersebut berpotensi membutuhkan investasi dengan risiko yang lebih tinggi serta periode pengembalian modal yang lebih panjang dibandingkan rekam jejak bisnis Vaksindo sebelumnya di pasar domestik. "Dengan demikian, pelepasan kepemilikan perseroan atas Vaksindo turut memitigasi eksposur perseroan terhadap risiko investasi tersebut," kata Maya dalam keterbukaan informasi, Rabu (30/9/2026). Di sisi lain, divestasi ini tidak serta-merta memutus hubungan bisnis antara JPFA dan Vaksindo. Maya menyebut jika hubungan komersial dan pasokan bahan baku peternakan dari Vaksindo tetap berjalan dengan syarat dan ketentuan yang secara substansial sama seperti saat ini. JPFA menyebut keberlanjutan hubungan tersebut menjadi salah satu alasan transaksi dilakukan dengan pihak yang masih terafiliasi. Japfa Pte. Ltd. sebagai pengendali Grup Japfa dinilai telah memahami hubungan bisnis dan pengaturan komersial antara JPFA dan Vaksindo sehingga risiko gangguan terhadap rantai pasok dapat diminimalkan.
Dampak Divestasi terhadap Prospek JPFA
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Amand mengatakan JPFA dan Ciomas melepas 100% Vaksindo beserta anak usahanya di India dan Vietnam serta merek terkait senilai Rp1,8 triliun, setara 8,47% ekuitas konsolidasi per Juni 2026, efektif 29 September 2026. Pembelinya adalah Japfa Pte, pengendali JPFA dengan kepemilikan 56,34%, bersama Bionovus. "Dampak positifnya, JPFA mendapat injeksi kas yang cukup material dan tidak perlu lagi mengalokasikan modal untuk ekspansi Vaksindo di luar negeri, sehingga bisa fokus ke bisnis inti pakan, pembibitan, dan pengolahan ayam," kata Abida.
Baca Juga: Deretan Emiten Ini Bakal jadi Penadah Berkah dari Stimulus Ekonomi Pemerintah Abida juga bilang divestasi ini memperbaiki fleksibilitas neraca, namun bukan penentu kinerja jangka panjang. Kinerja JPFA tetap bergantung pada siklus harga ayam hidup, DOC, serta biaya jagung dan bungkil kedelai yang sensitif terhadap rupiah. Manfaat jangka panjangnya bergantung pada penggunaan dana. Jika dipakai untuk mengurangi utang atau memperkuat bisnis inti dengan return yang lebih tinggi, dampaknya positif ke ROE dan beban bunga.
Disisi lain, Abida mengungkapkan, karena ini transaksi afiliasi, investor perlu mencermati kewajaran harga berdasarkan penilaian independen, terutama dibanding nilai buku dan potensi laba Vaksindo yang dilepas. Hal kedua yang perlu dipantau adalah alokasi dana hasil divestasi, apakah untuk deleveraging, capex inti, atau dividen. Kontribusi laba Vaksindo yang hilang dari laporan konsolidasi ke depan juga perlu diperhitungkan saat membaca pertumbuhan laba. Dari sisi rekomendasi saham, Abida tetap memandang positif JPFA dengan rekomendasi buy di target harga Rp 2.500, ditopang momentum pertumbuhan pendapatan yang kuat dan fleksibilitas neraca yang membaik pasca divestasi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News