KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dinilai masih solid pada tahun ini, ditopang oleh ekspansi jaringan rumah sakit yang berkelanjutan. Hingga kini MIKA terus memperluas jaringan rumah sakitnya. Saat ini Perseroan mengoperasikan 32 rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia. Ke depan, MIKA menargetkan pembukaan satu hingga dua rumah sakit per tahun dan penambahan kapasitas tempat tidur. Secara geografis, fokus ekspansi tetap berada di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut kinerja MIKA tahun ini masih ditopang oleh strategi ekspansi rumah sakit yang berkelanjutan.
Baca Juga: Tuntaskan Akuisisi PADA, INET Gelontorkan Dana Rp 106,39 Miliar Menurutnya, penambahan jaringan rumah sakit berpotensi mendorong peningkatan pendapatan sekaligus EBITDA, seiring bertambahnya kapasitas dan tingkat okupansi dari rumah sakit baru. “Dengan bertambahnya jumlah kamar dan tingkat hunian, pelayanan bisa menjadi lebih optimal, sehingga wajar jika kinerja pendapatan ikut meningkat,” ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (3/2/2026). Selain itu, fokus MIKA pada segmen pasien privat dinilai memberikan margin yang lebih tinggi, terlebih lokasi rumah sakit baru yang strategis dinilai mampu menarik minat pasien privat untuk mendapatkan layanan yang lebih memadai. Dari sisi layanan, MIKA juga konsisten berinvestasi pada teknologi dan pengembangan
Center of Excellence (COE) dengan layanan berkompleksitas tinggi seperti onkologi, kardiologi, dan ortopedi, yang memiliki tarif lebih tinggi dan berpotensi meningkatkan pendapatan secara lebih optimal. Hal yang sama juga disampaikan oleh
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su. Menurut Harry, pembukaan rumah sakit baru membuka peluang peningkatan volume pasien sekaligus memperluas jangkauan layanan melalui penguatan kontribusi COE yang berpotensi mendongkrak pendapatan rata-rata per pasien rawat inap (
average revenue per
inpatient day/ARPID). "Meski demikian, yang perlu dicermati rumah sakit baru umumnya membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua tahun untuk mencapai tingkat utilisasi yang optimal," ujar Harry. Nafan juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah turut berpotensi meningkatkan biaya peralatan dan obat-obatan yang sebagian besar masih bergantung pada impor, sehingga dapat menekan margin rumah sakit. Selain itu, dinamika dan potensi keterlambatan reimbursement BPJS Kesehatan dan JKN yang dapat menekan margin, hingga kenaikan klaim asuransi swasta yang berisiko menggerus profitabilitas. Tapi, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farrell Nathanael bilang, MIKA telah memfokuskan strategi pada segmen pasien swasta dan kasus berkompleksitas tinggi. Hal ini turut mendorong peningkatan kontribusi pendapatan dari pasien swasta secara konsisten. Menurut catatannya, komposisi pendapatan MIKA terus bergeser ke segmen swasta, yang saat ini menyumbang lebih dari 85% total pendapatan. "Di antara para pesaingnya, MIKA menjadi pemain dengan kinerja terbaik dalam pendapatan pasien swasta, mencerminkan fokus berkelanjutan pada layanan bernilai tambah dan penanganan kasus kompleks," ujar Farell dalam riset 10 Desember 2026. Manajemen memperkirakan pertumbuhan pasien swasta akan tetap kuat dan lebih cepat dibandingkan BPJS, sementara volume BPJS diperkirakan akan kembali normal tahun 2026 ini setelah mengalami penurunan pada 2025. Per kuartal III-2025 MIKA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,01 triliun, tumbuh 16,50% secara tahunan (YoY) dari laba setahun sebelumnya Rp 872,88 miliar. Seiring dengan itu, pendapatan emiten rumah sakit ini juga ikut meningkat 9,98% YoY dari Rp 3,61 triliun menjadi Rp 3,98 triliun. Dengan mempertimbangkan sentimen di atas, Farell memproyeksi pendapatan MIKA bisa mencapai Rp 5,91 triliun di tahun 2026, meningkat dibandingkan estimasi Rp 5,32 triliun pada 2025. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih MIKA pada di sepanjang 2026 juga diperkirakan naik menjadi Rp 1,52 triliun, dari proyeksi Rp 1,30 triliun pada 2025. Farrel pun memberikan rekomendasi kepada investor untuk beli saham MIKA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Ada pula Harry juga merekomendasilan beli MIKA dengan target Rp 3.130 per saham. Sedang Nafan, memberi rekomendasi Accumualtive Buy saham MIKA dengan target Rp 2.820 per saham.
Baca Juga: Obat Bermerek Dorong Pemulihan Phapros (PEHA), Ini Rekomendasinya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News