Jasa Marga (JSMR) Berencana Buyback Saham, Begini Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Jasa Marga Tbk (JSMR) untuk melakukan buyback saham dinilai bisa berdampak positif ke kinerja perseroan.

Asal tahu saja, JSMR membuka ruang kajian untuk potensi pembelian kembali saham (share buyback).

Corporate Secretary & Chief Administration Officer Jasa Marga, Trias Andriyanto menyampaikan, evaluasi terhadap kemungkinan opsi buyback saham didasarkan pada kajian yang komprehensif dan menyeluruh demi menjaga fundamental perseroan. 


“Perseroan juga selalu mengutamakan prinsip kehati-hatian serta tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dalam setiap langkah aksi korporasi. Pendekatan ini penting guna memastikan struktur keuangan tetap kokoh dengan tetap selaras dalam menjaga operasional jalan tol,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham NCKL, DEWA, dan ACES untuk Jumat (23/10)

Trias menambahkan, Perseroan terus memperkuat fundamental bisnis, menjaga pertumbuhan kinerja keuangan, dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

“Dengan dukungan jaringan jalan tol yang luas dan konektivitas yang terus berkembang, kami berkomitmen menjaga kinerja yang berkelanjutan, menerapkan tata kelola yang bertanggung jawab, serta menghadirkan nilai tambah bagi pemegang saham dan pelayanan yang semakin baik bagi pengguna jalan,” tuturnya.

Sayangnya, saat dikonfirmasi terkait sumber dana, nilai buyback, dan jadwal realisasi, JSMR belum memberikan keterangan lebih lanjut.

“Perseroan berkomitmen akan menyampaikan perkembangan dan keputusan terkait rencana aksi korporasi sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ungkapnya.

Tim Riset KISI Sekuritas menilai, aksi buyback JSMR menarik dari sisi valuasi. Di harga Rp 2.470 per saham, price to book value (PBV) sekitar 0,48x dan price to earning ratio (PER) sekitar 4,7x, artinya perusahaan membeli asetnya sendiri jauh di bawah nilai buku. 

Dampak ke kinerja kecil tapi positif. Sebab, earning per share (EPS) naik sebanding porsi saham yang dibeli, ditambah pula sinyal kepercayaan manajemen. 

Selain itu, risiko free float minim lantaran negara memegang sekitar 70% saham JSMR. Artinya, free float JSMR sekitar 30%, jauh di atas batas minimum 12,5%. 

Risiko dari aksi buyback saham JSMR justru berasal dari neraca keuangan. Jumlah liabilitas JSMR sekitar Rp 100 triliun dan arus kas sekitar Rp 7 triliun, ditambah pula capital expenditure (capex) masih digunakan untuk ekspansi tol. 

Artinya, nilai buyback yang masuk akal untuk JSMR sekitar Rp 250 miliar - Rp 500 miliar, atau 1,5% - 3% saham. 

“Itu cukup jadi sinyal tanpa membebani pendanaan proyek. Lebih dari jumlah itu bisa mengganggu kemampuan ekspansi,” paparnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, dari sisi dampak finansial, jika saham yang dibeli kembali disimpan sebagai saham treasuri, berkurangnya jumlah saham yang beredar secara otomatis akan menaikkan EPS serta meningkatkan rasio Return on Equity (ROE) perseroan. 

“Dari kalkulasi nilai, eksekusi buyback akan sangat menarik jika dilakukan pada tingkat valuasi PBV di bawah rentang 0,8x hingga 1,0x dengan estimasi alokasi dana ideal berkisar Rp 200 miliar hingga Rp 500 miliar,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Prospek JSMR di sisa tahun 2026 hingga 2027 dinilai stabil, ditopang pendapatan tol yang tumbuh sekitar 7% hingga semester I 2026 ke Rp 9,51 triliun. Laba JSMR per semester I 2026 juga naik tipis 2% ke Rp1,91 triliun. 

“Pendapatan total turun karena komponen pendapatan konstruksi, yang sifatnya non-kas, jadi tidak perlu dikhawatirkan,” kata Wafi.

Sentimen positif pendorong kinerja JSMR ke depan adalah penyesuaian tarif tol berkala, pertumbuhan trafik, valuasi sangat murah, potensi divestasi atau daur ulang aset tol, dan buyback saham. 

Sementara, sentimen negatif berasal dari utang besar JSMR di tengah suku bunga tinggi di 5,75% dengan yield SBN sekitar 7%, ruas baru yang membutuhkan waktu sampai trafiknya matang, kebutuhan capex, serta tekanan jual saham BUMN akibat isu MSCI. 

“Bagi investor jangka panjang yang tahan volatilitas, valuasinya menarik. Tapi katalis jangka pendek terbatas selama suku bunga belum turun,” tuturnya.

Nafan melihat, prospek fundamental JSMR hingga 2027 maish solid dan menjanjikan yang didorong oleh terus meningkatnya volume lalu lintas harian rata-rata di jaringan jalan tol utama. 

Pertumbuhan pendapatan perseroan akan ditopang oleh katalis musiman momentum libur Natal dan Tahun Baru 2026/2027 serta siklus mudik Lebaran 2027. Katalis itu ditambah dengan adanya penyesuaian tarif tol berkala secara reguler berdasarkan tingkat inflasi pada ruas-ruas strategis seperti Trans-Jawa dan Jabodetabek. 

Strategi daur ulang aset (asset recycling) melalui penataan portofolio anak usaha juga memberikan ruang bagi perolehan keuntungan divestasi untuk memperkuat struktur permodalan. 

Meskipun JSMR tetap harus mengelola risiko beban keuangan akibat tingkat suku bunga serta masa ramp-up trafik pada ruas tol baru, kombinasi keberadaan downside protection dari wacana buyback, Nafan melihat, kepastian imbal hasil dividen, dan fundamental operasional yang kuat menjadikan saham JSMR tetap memiliki daya tarik investasi yang tinggi untuk jangka menengah hingga panjang.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menambahkan, prospek JSMR hingga 2027 didukung pertumbuhan trafik kendaraan, penyesuaian tarif tol, dan kontribusi ruas baru.

Tantangan kinerjanya berasal dari beban bunga dan kebutuhan belanja modal yang besar. Sementara, perbaikan arus kas dan profitabilitas akan menjadi kunci penguatan fundamental.

Elandry pun merekomendasikan accumulative buy dengan target harga Rp 3.000 – Rp 3.500 per saham hingga 2027. Sedangkan, Nafan merekomendasikan sell on strength untuk JSMR.

Baca Juga: Saham Raharja Energi (RATU) Bangkit Setelah Anjlok 38% Sebulan, BEI Pasang Status UMA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News