Jasindo: Peluang Pertumbuhan Asuransi Properti Masih Terbuka hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) melihat peluang pertumbuhan premi lini asuransi properti masih terbuka hingga akhir 2026.

Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan peluang itu tak terlepas dari meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk melindungi aset dan menjaga keberlangsungan operasional di tengah berbagai potensi risiko.

"Hal itu menjadi peluang yang terus dioptimalkan," katanya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).


Oleh karena itu, Gema menerangkan Jasindo akan menerapkan sejumlah upaya guna mengoptimalkan peluang tersebut. Dia bilang pihaknya akan terus memperkuat pemasaran yang lebih terarah dan memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra bisnis.

Baca Juga: Sejumlah Pelaku Industri Asuransi Rekayasa Mengatisipasi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

"Ditambah, menghadirkan solusi perlindungan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing segmen nasabah," ujarnya.

Selain itu, Gema menyampaikan Jasindo juga mengedepankan pendekatan risk management partnership. Dia menjelaskan pendekatan tersebut membuat perusahaan tidak hanya menyediakan perlindungan melalui produk asuransi, tetapi juga mendampingi nasabah dalam mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memitigasi risiko sejak awal.

"Pendekatan itu diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah, sekaligus membangun portofolio bisnis yang lebih berkualitas dan berkelanjutan," ungkap Gema.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, pendapatan premi Jasindo mencapai Rp 1,03 triliun per Mei 2026. Adapun klaim bruto tercatat sebesar Rp 735,70 miliar per Mei 2026.

Baca Juga: Gelombang PHK Ancam Kualitas Kredit Konsumsi Perbankan

Terkait kinerja industri, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi asuransi properti tumbuh sebesar 6,5% year on year (YoY), menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026.

Adapun nilai klaim asuransi properti mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 34,7% YoY, menjadi Rp 2,64 triliun per Maret 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News