Jatim Kuasai Hampir Sepertiga Industri AMDK



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jawa Timur menjadi barometer penting industri air minum dalam kemasan (AMDK) nasional. Pasalnya, provinsi ini menampung hampir sepertiga pelaku industri AMDK di Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) Karyanto dalam Musyawarah Daerah (Musda) I AMDATARA Jawa Timur di Surabaya. Ia bilang, kesiapan Jawa Timur menghadapi pemberlakuan wajib SNI akan turut menentukan arah industri AMDK nasional.

"Jawa Timur memiliki posisi strategis karena menjadi wilayah dengan jumlah pelaku industri AMDK terbesar di Indonesia. Keberhasilan pembinaan di sini akan menentukan arah industri AMDK Indonesia secara keseluruhan," kata Karyanto dikutip dari keterangan resminya, Jumat (18/9/2026).


AMDATARA mencatat, dari 707 perusahaan AMDK nasional dengan kapasitas produksi 47 miliar liter per tahun, sebanyak 208 perusahaan atau 29,4% berada di Jawa Timur.

Karyanto menyebut, industri AMDK di Jawa Timur didominasi industri kecil dan menengah (IKM), yang porsinya mencapai 87%. Kondisi ini membuat pembinaan pelaku usaha menjadi penting, terutama menjelang penerapan wajib SNI dan meningkatnya tuntutan keberlanjutan.

Baca Juga: Bisnis AMDK Makin Kompetitif, Aqua Perkuat Rantai Pasok dan Distribusi

"Jawa Timur menguasai hampir sepertiga industri AMDK nasional. Dengan dominasi pelaku IKM yang mencapai 87%, provinsi ini menjadi barometer sesungguhnya bagi kesiapan industri menghadapi era wajib SNI dan tuntutan keberlanjutan," ujarnya.

Menurut Karyanto, AMDATARA tidak hanya menyasar industri berskala besar, tetapi juga pelaku IKM yang menjadi bagian terbesar ekosistem AMDK Jawa Timur. Ekosistem tersebut mencakup mulai dari Lighthouse Industry 4.0 hingga unit usaha AMDK di pesantren dan koperasi.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menekankan pentingnya pertumbuhan industri AMDK yang diikuti tanggung jawab terhadap lingkungan. Menurut dia, pelaku industri perlu memperhatikan dampak lingkungan dari seluruh rantai bisnis, mulai dari penggunaan bahan baku hingga pengelolaan kemasan setelah dikonsumsi.

Emil juga menyoroti persoalan sampah kemasan berbahan PET. Menurut dia, pengelolaan sampah tidak hanya mencakup botol, tetapi juga komponen lain seperti tutup dan label. Karena itu, penguatan Extended Producer Responsibility (EPR) dinilai penting untuk memperluas tanggung jawab produsen terhadap siklus kemasan.

Selain itu, Emil mengajak pelaku industri terlibat dalam konservasi sumber air baku dengan melibatkan masyarakat di sekitar reservoir dan kawasan hutan. Konservasi tersebut, kata dia, diharapkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.

Baca Juga: Industri AMDK Soroti Tantangan untuk Penuhi Ketentuan SNI Wajib

Musda I sekaligus mengukuhkan pengurus DPD AMDATARA Jawa Timur periode 2026–2031. Mulyono Wibisono dari PT Tirta Investama ditunjuk sebagai Ketua, didampingi Anang Zakaria dari PT Coca-Cola Bottling Indonesia sebagai Wakil Ketua, Harum Ayu Siswanti dari PT Moya Kasri Wira Jatim sebagai Sekretaris, dan Triono Suwignyo dari PT Panca Tirta Prigen sebagai Bendahara.

Kepengurusan dilengkapi lima bidang, yakni Organisasi & Hubungan Antar Anggota yang dipimpin Gatot dari PT Tirta Yakin Sejahtera, Advokasi & Kebijakan Publik oleh Dwi Cahyo Widodo dari PT Tirta Sukses Perkasa, Kemitraan & Hubungan Antar Lembaga oleh Destrianus dari PT CS2 Pola Sehat, Penelitian & Pengembangan oleh Hari Subagyo dari PT Tirta Investama Banyuwangi, serta Keberlanjutan, Lingkungan & Sosial oleh Hari Wicaksono dari PT Tirta Investama Keboncandi.

Mulyono mengatakan, empat prioritas AMDATARA Jawa Timur periode 2026–2031 meliputi pendampingan sertifikasi SNI dan halal, konservasi air, ekonomi sirkular, serta Net Zero Emission. AMDATARA siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan industri berwawasan lingkungan.

Agenda ini berlangsung di tengah persiapan wajib SNI AMDK berdasarkan Permenperin Nomor 62 Tahun 2024. Data BPOM yang disampaikan dalam Musda menunjukkan tingkat ketidakpatuhan sarana produksi masih mencapai 39%.

"Mari kita jadikan AMDATARA Jawa Timur bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai rumah besar bagi seluruh pelaku industri AMDK untuk tumbuh, berinovasi, dan bergerak bersama menuju Green Industry yang berdaya saing dan berkelanjutan," kata Mulyon

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News