Berjuang membangun pasar ekspor ikan hias (3)



Kendati usianya masih muda, Nicholas Kurniawan sukses berbisnis ikan hias dengan omzet ratusan juta per bulan. Sukses itu tidak didapatnya dengan mudah. Butuh kerja keras.

Di saat-saat awal merintis usaha, omzet yang dikantonginya baru berkisar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan, jumlah yang relatif sangat kecil. Namun, tekadnya untuk melipatgandakan omzetnya terus menggebu agar ia bisa melanjutkan kuliah di Prasetya Mulya Business School.

Nicholas sendiri saat itu baru kelas tiga sekolah menengah atas (SMA).Agar keinginannya melipatgandakan omzet bisa tercapai, ia pun  bertekad menjadi eksportir ikan hias.


Untuk itu, ia berusaha mendekati para eksportir ikan hias. Tujuannya, tidak lain adalah untuk belajar dan menimba pengalaman para eksportir tersebut.

Namun, ternyata langkah  itu tidaklah mudah. Rupanya, para eksportir tersebut tidak ada yang bersedia memberikan ilmu secara cuma-cuma. Mau tidak mau, ia harus belajar sendiri.

Nicholas pun mulai membangun website. Ini memang biasa dilakukan para eksportir. Ia juga gencar beriklan di internet dan mencari pemasok yang bisa memasok ikan hias secara kontinyu.

Namun, untuk menjadi eksportir tidak cukup sampai disitu. "Saya harus juga mencari shipment agent yang dapat membantu mengurus dokumen-dokumen ekspor, tapi saya kesulitan disitu," katanya.

Namun, tekadnya yang kuat untuk bisa kuliah di Prasetya Mulya membuatnya mencari alternatif lain.Sembari terus mengejar impiannya menjadi eksportir ikan hias, ia juga mulai membuat rencana lain, yakni mencari beasiswa.

Celakanya, dua kali mengikuti tes, Nicholas hanya lulus dengan grade B. Lulus dengan grade B sama dengan gagal, karena untuk dapat beasiswa harus lulus dengan grade A.

Nicholas hampir putus asa. Masa pendaftaran mahasiswa baru di Prasetya Mulya semakin mepet. Ia pun kembali fokus ke rencana awal menjadi eksportir. “Saya mulai kembali percaya pada mimpi saya,” ujarnya.

Nicholas kembali berusaha mendekati eksportir ikan hias yang sudah sukses. Akhirnya ia pun berhasil mendapat partner. Pelan-pelan ia bisa mendapat pasar ekspor.

Di bulan juli 2011, saat gelombang terakhir pendaftaran di Prasetya Mulya, ia sudah berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 100 juta. Kini Nicholas masih duduk di semester enam. Bisnis ikan hiasnya juga terus berkembang. Kendati sudah sukses, ia tetap menyiapkan berbagai rencana buat memajukan bisnis ikan hiasnya agar lebih besar lagi.

Antara lain dengan membuka toko off line. "Sebentar lagi saya  buka," katanya. Berkat kerja kerasnya ini, ia juga banyak mendapat penghargaan. Pada Januari 2014, Nicholas meraih juara pertama Wirausaha Muda  Mandiri 2013 untuk kategori perdagangan dan jasa.  Sebelumnya, ia sering memenangkan kompetisi bisnis antar universitas  yang digelar UGM, HIPMI Banten dan Trisakti.             (Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri