Jaya Sukses (RISE) Ekspansi ke Ubud Bali Rp 1 Triliun, Ini Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) melakukan ekspansi lewat pembangunaan VASA di wilayah Ubud, Bali. Nilai investasi pembangunan proyek ini mencapai Rp 1 triliun

Corporate Secretary RISE, Go Herliani Prayogo mengatakan, pembangunan VASA Hotel Ubud merupakan langkah ekspansi masif perseroan.

“Pengembangan proyek ini merupakan bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan sesuai dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip pada 20 Juli 2026.


Baca Juga: PGAS Dibayangi Kebijakan Harga Gas Baru, Begini Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Melansir dokumen tersebut, proyek tersebut berdiri di atas lahan seluas 70.391 meter persegi (7,39 Hektar) yang berbatasan langsung dengan tebing eksotis Sungai Ayung, Ubud.

Dirancang dengan kepadatan bangunan yang sangat rendah (low-density), VASA UBUD akan menghadirkan 41 unit Private Luxury Villas dan 128 kamar hotel bergaya sanctuary dengan ukuran sangat luas mulai dari 48 meter persegi. 

“Kompleks properti ini ditargetkan selesai dalam waktu 30 bulan, sekaligus memperkuat portofolio aset premium dari RISE,” katanya.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, proyek VASA Ubud adalah pembangunan jangka panjang, sehingga dampaknya tidak akan instan ke kinerja perseroan.

Resort mewah membutuhkan waktu konstruksi sekitar 2–3 tahun sebelum beroperasi. Dalam jangka pendek, pembangunan VASA Ubud ini justru akan menekan anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex). Sementara, arus masuk ke pendapatan kemungkinan baru masuk mulai tahun 2028.

Baca Juga: Jaya Sukses Makmur (RISE) Bangun VASA Ubud, Nilai Investasinya Capai Rp 1 Triliun

“Sentimen positif jangka panjangnya adalah wilayah Ubud yang punya permintaan pariwisata premium yang kuat. Tetapi ini katalis untuk tahun 2028, bukan di tahun 2026,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, groundbreaking VASA Ubud merupakan katalis jangka panjang yang positif bagi RISE. 

Proyek tersebut ditargetkan menyasar pasar turis ultra-premium domestik dan mancanegara serta wellness tourism kelas dunia.

“Begitu beroperasi penuh pasca-konstruksi, VASA Ubud diproyeksikan akan melipatgandakan recurring income eksponensial dari tarif sewa kamar premium dan fasilitas fine dining di atas rata-rata hotel standar mereka,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).

Secara jangka panjang, strategi memperkuat porsi pendapatan berulang alias recurring income dari aset tersebut yang dirancang untuk menstabilkan arus kas operasional RISE. 

Sehingga, kata Nafan, nantinya akan mengurangi ketergantungan arus kas musiman dari kinerja marketing sales yang pergerakannya sangat siklikal. 

“Namun, untuk jangka pendek selama masa konstruksi, posisi arus kas investasi akan tertekan akibat pengeluaran modal belanja proyek tersebut,” paparnya.

Wafi melihat, prospek kinerja RISE di tahun 2026 lebih ditentukan oleh bisnis eksisting dibandingkan sentimen pembangunan proyek VASA Ubud.

Baca Juga: Tempo Scan (TSPC) Gandeng Farmasi China, Bidik Bisnis Biopharmaceutical

Sentimen positif penggerak kinerja RISE di tahun ini adalah pipeline proyek dan potensi pemulihan kinerja jika suku bunga Bank Indonesia (BI) turun. 

Sedangkan, sentimen negatif untuk RISE berasal dari era suku bunga tinggi sehingga menekan permintaan properti dan meningkatkan biaya. Lalu, pelemahan rupiah dan likuiditas yang tipis juga menjadi pemberat kinerja emiten tahun ini

Di sisi lain, RISE masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi alias high shareholding concentration (HSC) yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal bulan Juli 2026. 

Wafi melihat, hal tersebut merupakan pertanda buruk yang harus dilihat investor. Sebab, hal itu berarti konsentrasi kepemilikan RISE tinggi dan free float terbatas, sehingga membuat sahamnya rentan volatil dan dihindari institusi asing. 

“Kombinasi capex besar, list HSC, dan pasar risk-off membuat saham RISE tidak menarik dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Wafi belum memberikan rekomendasi untuk RISE. Sementara, Nafan merekomendasikan speculative buy untuk RISE dengan target harga Rp 1.730 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News