KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Sedikitnya 1 miliar dari kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah atau belum mendapatkan penanganan. Gangguan refraksi dan katarak menjadi dua penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan secara global. Dampaknya juga meluas terhadap produktivitas, dengan estimasi kerugian ekonomi sekitar US$411 miliar per tahun.
1 Kacamata bekerja dengan membelokkan cahaya dari luar mata agar penglihatan menjadi lebih jelas, tetapi tidak mengubah maupun memperkuat struktur kornea. Pada gangguan refraksi yang stabil, kacamata tetap menjadi pilihan koreksi yang aman dan efektif. Namun, jika terdapat penyakit kornea progresif, mengganti kacamata berulang kali tidak akan menghentikan perubahan struktur yang sedang berlangsung.
Baca Juga: JEC (JECX) Buka Akses Operasi Katarak di Purwokerto, Layani Pasien Jawa Tengah dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Head of Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), menjelaskan, perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder. “Pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur dan umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata. Sementara pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo,” ujarnya, Rabu (29/7/2026). Kemajuan teknologi menyediakan beragam pilihan koreksi dan penanganan, tetapi tidak ada satu prosedur yang sesuai untuk semua mata. Pemilihan tindakan perlu didasarkan pada jenis gangguan refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, stabilitas ukuran kacamata, kesehatan permukaan mata, serta anatomi mata secara keseluruhan. LASIK bekerja dengan membentuk lapisan tipis atau flap pada kornea menggunakan laser femtosecond. Flap tersebut dibuka untuk memberikan akses ke lapisan stroma. Selanjutnya, laser excimer membentuk ulang kornea berdasarkan ukuran minus, plus, atau silinder pasien. Setelah koreksi selesai, flap dikembalikan ke posisi semula dan dapat menempel tanpa jahitan. Sementara itu, SMILE Pro merupakan prosedur flapless yang tidak membutuhkan pembentukan flap kornea seperti pada LASIK. Laser femtosecond membentuk lapisan jaringan sangat tipis atau lenticule di dalam kornea. Lenticule tersebut kemudian dikeluarkan melalui sayatan mikro sekitar 2–4 milimeter untuk mengubah kelengkungan kornea sesuai kebutuhan koreksi pasien. SMILE Pro menggunakan teknologi ZEISS VISUMAX 800 dengan paparan laser sekitar 8–10 detik per mata. Karena menggunakan sayatan yang lebih kecil dan tidak membentuk flap, struktur permukaan kornea dapat lebih terjaga dan risiko gangguan terkait flap dapat diminimalkan. Prosedur ini juga dapat membantu meminimalkan keluhan mata kering, meskipun hasil dan proses pemulihan dapat berbeda pada setiap pasien. Selain LASIK konvensional, JEC Eye Hospitals and Clinics juga menghadirkan LASIK Xtra, layanan yang saat ini hanya tersedia di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics di Indonesia. LASIK Xtra mengombinasikan koreksi LASIK dengan corneal cross-linking dalam satu rangkaian tindakan. Setelah kornea dibentuk ulang menggunakan laser excimer, larutan riboflavin atau vitamin B2 diaplikasikan pada lapisan kornea, kemudian diaktivasi menggunakan sinar ultraviolet A. Proses tersebut membantu membentuk ikatan tambahan antar serat kolagen sehingga mendukung kekuatan dan stabilitas struktur kornea setelah LASIK. Tahapan tambahan LASIK Xtra membutuhkan waktu sekitar tiga menit dan dilakukan dalam sesi tindakan yang sama. LASIK Xtra dapat dipertimbangkan bagi pasien terpilih yang membutuhkan dukungan tambahan terhadap stabilitas kornea, misalnya pasien dengan kornea borderline tetapi masih berada dalam parameter aman untuk LASIK, memiliki ukuran minus atau silinder tinggi, berusia relatif muda, atau dinilai memiliki risiko regresi refraksi setelah tindakan. Keputusan tetap ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kornea tidak ideal untuk dibentuk ulang dengan laser, Implantable Collamer Lens atau ICL dapat dipertimbangkan apabila anatomi bagian dalam mata memenuhi syarat. ICL merupakan lensa tambahan yang ditanam di belakang iris dan di depan lensa alami sehingga dapat memberikan koreksi tanpa mengikis atau membentuk ulang kornea. Angka minus dan silinder bukan satu-satunya penentu pilihan tindakan. Sebelum bedah refraktif, pasien perlu menjalani pemeriksaan untuk memetakan kondisi mata secara menyeluruh. Pemeriksaan refraksi mengukur besarnya minus dan silinder, sementara topografi atau tomografi kornea memetakan kelengkungan serta bentuk permukaan depan dan belakang kornea. Dokter juga menilai ketebalan kornea, lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, retina, dan kesehatan mata secara keseluruhan. “Secara umum, kandidat
Laser Vision Correction harus berusia minimal 18 tahun, memiliki ukuran minus atau silinder yang stabil setidaknya selama 12 bulan, tidak sedang hamil atau menyusui, serta memiliki kondisi dan ketebalan kornea yang memenuhi parameter keamanan. Pengguna lensa kontak juga perlu melepas lensa untuk jangka waktu tertentu sebelum pemeriksaan agar hasil pemetaan kornea lebih akurat, sesuai arahan dokter,” jelas dr. Sharita. Masyarakat disarankan menjalani pemeriksaan mata komprehensif apabila ukuran minus atau silinder berubah cepat, penglihatan tetap tidak tajam setelah resep diperbarui, muncul distorsi atau pandangan ganda pada satu mata, silau malam semakin berat, mata sering digosok, atau terdapat riwayat keratoconus dalam keluarga. Ketajaman penglihatan bukan hanya tentang terbebas dari kacamata, tetapi tentang mendapatkan kualitas penglihatan yang optimal melalui pilihan penanganan yang sesuai. Karena kondisi setiap mata berbeda, keputusan tindakan harus selalu diawali dengan pemeriksaan komprehensif dan diskusi bersama dokter spesialis mata.
Dengan pengalaman lebih dari 150.000 tindakan Laser Vision Correction, termasuk LASIK, LASIK Xtra, SMILE®, dan SMILE Pro, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan layanan yang ditopang oleh dokter spesialis mata, teknologi diagnostik untuk pemetaan kornea, pemeriksaan pra-tindakan, serta pemantauan pasca tindakan yang terintegrasi. Saat ini, layanan LASIK dan SMILE Pro tersedia di JEC Menteng, JEC Kedoya, JEC CANDI Semarang, JEC JAVA Surabaya, JEC ORBITA Makassar, serta JEC BALI Denpasar. JEC Eye Hospitals and Clinics kini memiliki 16 cabang dan terus memperluas akses layanan kesehatan mata berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Sebagai bagian dari pengembangan layanan berstandar internasional, JEC Eye Hospitals and Clinics juga tengah membangun JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dengan konsep “Blue Hospital”, yang mengedepankan desain pendukung proses penyembuhan, teknologi medis modern, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan. Dalam waktu dekat JEC Eye Hospitals and Clinics juga akan membuka dua cabang baru, yaitu JEC Tangerang dan JEC JAVA Kediri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News