KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemilik The Washington Post, Jeff Bezos, akhirnya angkat bicara untuk pertama kalinya sejak media tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Dalam pernyataannya, pendiri Amazon itu menekankan pentingnya pemanfaatan data pembaca untuk menentukan arah masa depan The Post. Bezos menyebut The Washington Post memiliki misi jurnalistik yang sangat penting sekaligus peluang besar untuk berkembang di tengah perubahan industri media.
Menurut dia, kebiasaan dan minat pembaca yang tercermin dalam data dapat menjadi peta jalan bagi keberlanjutan media tersebut.
Baca Juga: Bos Kopi Kenangan Angkat Bicara Soal Peluang IPO “The Post memiliki misi jurnalistik yang esensial dan peluang luar biasa. Setiap hari, para pembaca memberi kita petunjuk menuju kesuksesan. Data menunjukkan apa yang bernilai dan ke mana kita harus fokus,” tulis Bezos. Pernyataan ini muncul di tengah perubahan manajemen di The Washington Post. CEO Will Lewis mengundurkan diri dan posisinya untuk sementara diisi oleh CFO Jeff D’Onofrio. Dalam pernyataannya, D’Onofrio juga menegaskan bahwa keputusan ke depan akan didorong oleh data pelanggan untuk menghadirkan konten yang paling bernilai bagi audiens. Nada serupa sebelumnya disampaikan oleh pemimpin redaksi The Washington Post, Matt Murray, saat berbicara kepada karyawan menyusul gelombang PHK. Murray menilai perusahaan perlu beradaptasi agar tetap relevan di lanskap media yang semakin padat dan kompetitif.
Baca Juga: Soal Isu PHK Massal Gudang Garam, Menaker Yassierli Buka Suara “Ini tentang memposisikan diri agar menjadi lebih penting dalam kehidupan masyarakat. Terlalu lama kami beroperasi dengan struktur lama, seolah masih menjadi surat kabar lokal yang hampir monopoli,” kata Murray. Usai PHK, Murray juga menegaskan perlunya pemahaman lebih dalam terhadap minat pembaca dan pemanfaatan data audiens. Ia mengakui The Post belum sepenuhnya memanfaatkan potensi era digital dengan optimal, terutama dalam penggunaan data untuk menentukan konten, cara publikasi, serta memahami pembaca dan calon pelanggan. Namun, penekanan kuat pada data ini tidak lepas dari kritik. Jurnalis The Atlantic, Sally Jenkins, yang pernah bekerja di The Washington Post, menilai pendekatan berbasis data pelanggan berisiko mengorbankan orisinalitas jurnalistik jika diterapkan secara berlebihan. Di sisi lain, pesan manajemen ini dinilai bisa meredam kritik dari pihak yang menilai kebijakan perusahaan selama ini lebih dipengaruhi pertimbangan ideologis ketimbang data. Meski demikian, upaya tersebut diperkirakan tidak mudah.
Baca Juga: Saham Amazon Rekor, Kekayaan Jeff Bezos Bertambah Rp 396 Triliun dalam Sehari The Washington Post sebelumnya sempat menghadapi gejolak besar pada 2024 ketika Bezos memutuskan media itu tidak mendukung kandidat presiden untuk pertama kalinya dalam 36 tahun. Laporan NPR menyebutkan lebih dari 200.000 pelanggan membatalkan langganan dalam beberapa hari setelah keputusan tersebut. Kritik juga muncul pada Februari 2025 saat Bezos mengubah arah rubrik opini agar lebih menekankan kebebasan individu dan pasar bebas. Mantan pemimpin redaksi The Washington Post, Martin Baron, menilai tantangan yang dihadapi media itu diperparah oleh keputusan strategis yang keliru dari jajaran teratas.
Baca Juga: Ini Ramalan Mencengangkan Jeff Bezos Soal AI dalam 10 Tahun Mendatang Sejumlah pengkritik bahkan menilai Bezos seharusnya lebih aktif menopang The Washington Post secara finansial, mengingat peran penting media tersebut bagi masyarakat. Meski demikian, Bezos tetap optimistis. Ia menyatakan kepemimpinan The Washington Pos* ke depan memiliki peluang untuk membangun babak baru yang lebih menarik dan berkelanjutan bagi media legendaris tersebut.