Jejak Roman Abramovich, Oligarki Rusia yang Mengubah Chelsea Jadi Raksasa
Jumat, 13 Februari 2026 13:42 WIB
Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Bagi penggemar sepak bola, khususnya pendukung Chelsea FC, nama Roman Abramovich jelas sudah tidak asing lagi. Konglomerat Rusia ini diakui sebagai salah satu pemilik klub sepak bola terbaik yang pernah ada. Di bawah kendalinya, Chelsea sukses menjelma menjadi raksasa Inggris, bahkan Eropa. Sayangnya, kemelut politik membuatnya harus melepas Chelsea. Meskipun begitu, jejak keberhasilannya masih akan tetap terlihat di London.
Roman Abramovich lahir pada 24 Oktober 1966 di Saratov, Rusia. Masa kecilnya diwarnai kehilangan kedua orang tua sejak dini. Namun ketika Uni Soviet runtuh dan Rusia memasuki era privatisasi, peluang bisnis terbuka lebar. Abramovich berhasil memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kariernya di dunia perdagangan dan energi. Menurut catatan Forbes, karier bisnisnya kemudian berkembang pesat setelah ia terlibat dalam pembentukan dan pertumbuhan perusahaan minyak besar di Rusia, Sibneft, yang kemudian dijual dengan harga fantastis kepada pemerintah Rusia pada pertengahan 2000-an. Selain minyak, Abramovich juga memiliki kepemilikan signifikan di perusahaan baja dan pertambangan global Evraz. Untuk mengelola berbagai asetnya, ia menggunakan perusahaan investasi Millhouse Capital, yang membawahi portofolio di sektor logam, energi, infrastruktur hingga properti. Kekayaannya sempat berada di kisaran US$9 miliar hingga lebih dari US$12 miliar sebelum gelombang sanksi internasional pada 2022 memengaruhi sejumlah asetnya. Baca Juga: 10 Atlet dengan Pendapatan Tertinggi di Dunia 2025: Cristiano Ronaldo Nomor Satu
Kedekatan dengan Vladimir Putin
Hubungan Abramovich dengan Presiden Rusia Vladimir Putin kerap menjadi sorotan. Hal ini pula yang membuatnya harus rela melepas Chelsea. Ia termasuk sedikit oligarki era 1990-an yang tetap bertahan dan bahkan berkembang ketika Putin mulai berkuasa pada awal 2000-an. Dalam catatan The Bureau of Investigative Journalism (TBIJ), kemampuannya menjaga hubungan baik dengan Kremlin membuat bisnisnya tetap aman ketika banyak konglomerat lain tersingkir. Meski demikian, Abramovich berulang kali membantah bahwa kedekatannya dengan pemerintah Rusia memberinya perlakuan istimewa. Isu tersebut kembali mencuat pada 2022, ketika Inggris dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah oligarki Rusia. Tekanan itu turut mendorong penjualan Chelsea.
Mengubah Chelsea Menjadi Raksasa Eropa
Skuad Chelsea saat menjuarai Liga Champions Eropa (UCL) tahun 2012
Namanya di dunia sepak bola mulai dikenal saat membeli Chelsea dengan nilai sekitar £140 juta pada tahun 2003. Saat itu, klub London Barat tersebut belum menjadi kekuatan dominan di Inggris. Tanpa ragu, investasi besar-besaran langsung digelontorkan untuk mendatangkan pemain top dan pelatih kelas dunia. Fokusnya yang sangat besar terhadap pembangunan Chelsea berbuah manis. Klub berjuluk The Blues tersebut langsung menjadi salah satu klub terbesar di dunia dalam dua dekade setelahnya. Selama kepemilikannya, Chelsea meraih:
5 gelar Premier League
5 Piala FA
3 Piala Liga Inggris
2 gelar UEFA Champions League
2 Liga Europa
Gelar Liga Champions 2012 dan 2021 menjadi simbol puncak era Abramovich yang akan selalu dikenang para penggemar. Meski dikenal tegas dalam urusan pergantian pelatih, Abramovich juga membangun fondasi jangka panjang lewat penguatan akademi dan infrastruktur klub. Akademi Chelsea saat ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Eropa. Abramovich juga sukses menjadikan tim wanita Chelsea menjadi yang terbaik di Inggris. Baca Juga: Struktur Manajemen Manchester United Era Sir Jim Ratcliffe
Penjualan Chelsea
Roman Abramovich bersama kapten Chelsea, Cesar Azpilicueta, saat menjuarai UEFA Europa League tahun
Pada Maret 2022, di tengah sanksi Barat terhadap oligarki Rusia, Roman Abramovich mengumumkan penjualan Chelsea FC. Pemerintah Inggris membekukan asetnya di negara tersebut, sehingga operasional klub berada di bawah lisensi khusus dan pengawasan ketat. Chelsea kemudian resmi dijual pada Mei 2022 kepada konsorsium pimpinan pengusaha AS Todd Boehly bersama Clearlake Capital dengan nilai sekitar £4,25 miliar. Sekitar £2,5 miliar merupakan harga akuisisi klub, sedangkan £1,75 miliar lainnya dijanjikan sebagai investasi tambahan untuk stadion, akademi, dan tim utama. Abramovich menyatakan hasil bersih penjualan akan didonasikan untuk membantu korban perang di Ukraina melalui yayasan amal. Sejak tidak lagi memiliki Chelsea, Abramovich cenderung jarang tampil di ruang publik Barat. Ia dilaporkan lebih banyak berada di Rusia, Israel, serta lokasi lain di luar Eropa Barat. Beberapa laporan media juga menyebut Abramovich sempat terlibat dalam upaya diplomasi informal antara Rusia dan Ukraina pada fase awal perang.