KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Menjelang peringatan usia ke-500 tahun pada 2027, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menilai tantangan terbesar ibu kota bukan lagi sekadar mempertahankan status sebagai motor perekonomian nasional. Lebih dari itu, Jakarta dituntut mampu mentransformasikan struktur ekonominya agar menghasilkan pertumbuhan yang lebih berkualitas, berdaya saing global, dan memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat. Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Yustinus Prastowo mengatakan, Jakarta hingga kini masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional. Namun, di tengah perubahan lanskap ekonomi global dan transformasi menuju kota jasa modern, kualitas pertumbuhan menjadi agenda yang jauh lebih penting dibanding sekadar besaran angka pertumbuhan ekonomi.
"Kalau kita melihat perkembangan ekonomi Jakarta beberapa tahun terakhir, Jakarta masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional. Tetapi tantangan yang kita hadapi sekarang bukan lagi sekadar mempertahankan posisi tersebut. Tantangannya adalah bagaimana memastikan kualitas pertumbuhan ekonomi Jakarta semakin baik dan mampu menjadi penggerak transformasi ekonomi nasional," ujar Prastowo kepada Kontan, Jumat (26/6/2026). Data triwulan I 2026 menunjukkan fondasi ekonomi Jakarta masih relatif solid. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta tercatat mencapai sekitar Rp 1.028,44 triliun atau tumbuh 5,59% secara tahunan (year on year). Kontribusi Jakarta terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga masih mencapai sekitar 16,67%, menjadikan ibu kota sebagai penyumbang terbesar bagi perekonomian Indonesia.
Baca Juga: Makna HUT Jakarta ke-499, Betawi Online Gallery Kian Terkenal Bersama Shopee Menurut Prastowo, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi Jakarta masih mampu tumbuh positif meskipun perekonomian nasional mulai mengalami moderasi. Namun yang lebih penting, kata dia, adalah perubahan struktur pertumbuhan ekonomi Jakarta. Berbeda dengan beberapa daerah lain yang masih banyak bergantung pada belanja pemerintah, pertumbuhan Jakarta kini semakin ditopang oleh konsumsi rumah tangga, aktivitas perdagangan, serta sektor jasa perkotaan. "Artinya mesin pertumbuhan Jakarta semakin berasal dari aktivitas ekonomi yang memang tumbuh di dalam kota, bukan semata-mata didorong oleh belanja pemerintah. Dari sudut pandang ekonomi daerah, struktur seperti ini relatif lebih sehat karena menunjukkan dunia usaha dan konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama," katanya. Transformasi tersebut juga tercermin dari komposisi sektor usaha yang menopang ekonomi Jakarta. Perdagangan masih menjadi kontributor terbesar, disusul sektor jasa keuangan, konstruksi, informasi dan komunikasi, serta jasa perusahaan. Bagi Pemprov DKI, struktur tersebut menunjukkan Jakarta semakin bergerak menuju kota dengan basis ekonomi jasa bernilai tambah tinggi, sebagaimana kota-kota metropolitan dunia. Meski demikian, Ia
menilai Jakarta tidak bisa terus mengandalkan konsumsi masyarakat sebagai mesin pertumbuhan utama. Untuk mempertahankan daya saing dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi harus semakin ditopang sektor-sektor yang mampu menciptakan produktivitas tinggi. Ia menyebut ekonomi digital, jasa keuangan modern, industri kreatif, layanan kesehatan, pendidikan, pusat riset dan inovasi, hingga ekonomi hijau sebagai sektor yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru Jakarta pada masa mendatang. "Sektor-sektor tersebut menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih berkualitas dan berkelanjutan," ujarnya. Transformasi ekonomi tersebut menjadi bagian dari target besar Pemprov DKI menjadikan Jakarta sebagai kota global setelah tidak lagi menyandang status ibu kota negara. Namun menurut Prastowo, kota global tidak cukup dimaknai sebagai kota dengan ukuran ekonomi besar. Kota global harus mampu menarik investasi, talenta terbaik, memiliki institusi yang kuat, serta menyediakan kualitas hidup yang baik bagi masyarakat.
Baca Juga: Mendagri Minta Daerah Bebaskan Pajak Kendaraan Listrik, DKI dan Tunggu Arahan Pusat Karena itu, indikator keberhasilan Jakarta tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peningkatan produktivitas, pertumbuhan investasi, kemudahan layanan publik, kualitas sumber daya manusia, hingga kemampuan melahirkan inovasi. "Kalau indikator-indikator itu bergerak ke arah yang positif, berarti kita sedang berada di jalur yang benar," katanya. Jakarta sendiri dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk mewujudkan target tersebut. Sebagian besar aktivitas jasa keuangan nasional, pasar modal, hingga ekonomi digital masih terpusat di Jakarta. Selain itu, pembangunan infrastruktur transportasi publik terus diperkuat melalui MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, serta pengembangan kawasan berbasis
Transit-Oriented Development (TOD). Menurut Prastowo, pembangunan transportasi publik bukan hanya meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga menciptakan efisiensi ekonomi yang menjadi salah satu syarat utama kota global. Meski demikian, ia menilai pembangunan infrastruktur saja belum cukup. "Pengalaman banyak kota dunia menunjukkan bahwa yang lebih menentukan adalah kualitas institusi, kepastian regulasi, kualitas SDM, dan kemampuan membangun kolaborasi," katanya. Karena itu, strategi Pemprov DKI saat ini juga diarahkan pada digitalisasi pelayanan publik, penyederhanaan perizinan, penguatan iklim investasi, peningkatan pendidikan dan pelatihan vokasi, hingga pembangunan ekosistem inovasi agar mampu melahirkan lebih banyak usaha dengan produktivitas tinggi. Di tengah besarnya kontribusi Jakarta terhadap ekonomi nasional, Pemprov DKI juga menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, manfaat pertumbuhan harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui layanan publik yang semakin baik. "Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya," ujarnya. Karena itu, pelayanan publik tetap menjadi prioritas dalam APBD DKI Jakarta 2026 yang mencapai sekitar Rp81,32 triliun. Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp19,75 triliun dialokasikan untuk sektor pendidikan, antara lain melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), peningkatan kualitas sekolah, hingga rehabilitasi sarana pendidikan. Pada sektor kesehatan, pemerintah tetap memprioritaskan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), peningkatan fasilitas kesehatan, penyediaan alat kesehatan, serta penguatan layanan kesehatan masyarakat. Sementara di sektor transportasi, subsidi untuk Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta tetap dipertahankan guna menjaga layanan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau. Menurutnya, tantangan fiskal yang lebih ketat pada 2026 justru menjadi momentum bagi Jakarta untuk meningkatkan kualitas belanja daerah. "Ukurannya bukan lagi seberapa besar anggaran yang dibelanjakan, tetapi seberapa besar manfaat yang dihasilkan. Dengan kata lain, kualitas belanja menjadi sama pentingnya dengan besarnya belanja," katanya. Ke depan, Jakarta masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kemacetan, keterjangkauan hunian, perubahan iklim, kualitas udara, hingga penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif.
Karena itu, pembangunan Jakarta ke depan tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, melainkan juga peningkatan produktivitas kota, kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola pemerintahan. "Menjelang usia lima abad, Jakarta memiliki modal yang sangat kuat untuk terus tumbuh. Tantangannya sekarang adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin berkualitas, semakin inklusif, dan benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau itu bisa dijaga, saya optimistis Jakarta tidak hanya tetap menjadi motor perekonomian nasional, tetapi juga menjadi rujukan pembangunan perkotaan bagi kota-kota lain di Indonesia," tutup Yustinus.
Baca Juga: Kadin DKI: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Namun Risiko Global Masih Membayangi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News