KONTAN.CO.ID – MAKKAH. Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), pemerintah memastikan kesiapan layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia terus diperkuat. Menteri Haji dan Umrah RI Moch Irfan Yusuf bersama Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar meninjau langsung kesiapan pelayanan kesehatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia pada Sabtu (23/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Irfan mengatakan rombongan Amirul Hajj datang langsung ke KKHI untuk memastikan kesiapan tenaga kesehatan dan pelayanan yang telah berjalan selama musim haji.
“Hari ini kami memang sengaja datang ke KKHI untuk memastikan kesiapan teman-teman kesehatan haji Indonesia, bagaimana pelayanannya selama musim haji yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini, dan terutama persiapan untuk Armuzna nanti,” ujar Irfan Yusuf.
Baca Juga: PPIH Siapkan 587 Petugas Badal Haji untuk Jemaah yang Wafat Sebelum Wukuf Ia mengakui terdapat sejumlah tantangan terkait regulasi kesehatan di Arab Saudi yang cukup ketat dan terus mengalami perubahan. Meski demikian, tenaga kesehatan Indonesia dinilai mampu menyesuaikan diri tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada jemaah. Ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala terkait regulasi yang berlaku di Arab Saudi. Meski demikian, para petugas terus berupaya menyesuaikan diri agar tetap mematuhi aturan yang berlaku, sambil memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah Indonesia tetap dapat diberikan. Terkait pelayanan kesehatan selama fase Armuzna, Irfan menjelaskan pemerintah telah menyiapkan klinik-klinik darurat di sejumlah titik strategis. Selain itu, kerja sama dengan rumah sakit Arab Saudi juga terus diperkuat guna mempercepat penanganan pasien yang membutuhkan rujukan medis lanjutan. “Kami ada klinik-klinik di sana untuk pelayanan darurat, tetapi tetap bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah Saudi. Pada kondisi tertentu, jemaah harus segera dirujuk ke rumah sakit di Saudi,” jelasnya. Menurut Irfan, total tenaga kesehatan yang disiapkan selama musim haji tahun ini mencapai lebih dari 1.200 orang. Setiap kelompok terbang (kloter) didampingi oleh satu dokter dan satu perawat, ditambah ratusan petugas kesehatan lain yang disiagakan di berbagai titik pelayanan. “Insya Allah ini akan bisa melayani jemaah kita selama Armuzna,” ungkapnya.
Baca Juga: Sehari Menuju Arafah, Jemaah Haji Indonesia Diminta Jaga Fisik dan Stamina Irfan juga mengungkapkan bahwa jumlah jemaah yang menjalani perawatan maupun meninggal dunia pada musim haji tahun ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pemeriksaan kesehatan istitha’ah yang lebih ketat sejak di Tanah Air. Ia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat jumlah jemaah yang dirawat maupun meninggal dunia menurun drastis tahun ini adalah pemeriksaan istitha’ah kesehatan di Tanah Air yang dilakukan lebih ketat dibanding musim haji sebelumnya. Sementara itu, terkait skema safari wukuf bagi jemaah lanjut usia dan berisiko tinggi, pemerintah masih terus melakukan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi agar pelaksanaannya tetap sesuai regulasi yang berlaku. “Safari wukuf secara resmi memang tidak diperbolehkan oleh otoritas Saudi, tetapi kita akan mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak melanggar regulasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Saudi,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar mengapresiasi dedikasi tenaga kesehatan Indonesia yang dinilai mampu menghadapi dinamika regulasi Arab Saudi yang ketat dan terus berubah.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Justru Beratkan Industri Manufaktur, Biaya Produksi Ikut Melonjak “Terima kasih kepada para tenaga kesehatan yang sangat tangguh menghadapi regulasi Pemerintah Saudi yang super ketat dan terus berubah. Teman-teman dokter mampu mengantisipasi dengan kecerdasan dan langkah-langkah yang tepat,” ujar Muhaimin. Ia menambahkan, pemerintah akan terus mengevaluasi pola pelayanan kesehatan haji agar semakin adaptif terhadap regulasi di Arab Saudi, tanpa mengurangi kualitas layanan bagi jemaah Indonesia. Menurutnya, Kementerian Haji dan Umrah ke depan juga akan terus menyerap berbagai masukan dari dokter dan tenaga kesehatan di lapangan agar sistem pelayanan kesehatan haji semakin efektif, efisien, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi jemaah Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News