KONTAN.CO.ID - Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, mencatat sejumlah perkembangan penting menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) yang berpotensi menjadi terbesar dalam sejarah. Melansir
Reuters Rabu (2/4/2026), perusahaan roket dan satelit tersebut menargetkan IPO pada akhir Juni dengan potensi penggalangan dana hingga US$ 75 miliar dan valuasi mencapai US$ 1,75 triliun. Namun di balik ambisi tersebut, dokumen IPO menunjukkan, SpaceX membukukan kerugian sebesar US$ 4,94 miliar pada 2025, di tengah lonjakan belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik ke US$ 4.739 pada Rabu (22/4) Pagi, Ini Pemicunya Bidik Startup AI hingga US$ 60 Miliar SpaceX mengungkapkan memiliki opsi untuk mengakuisisi startup pengembang kode berbasis AI, Cursor, dengan nilai hingga US$ 60 miliar. Alternatifnya, perusahaan dapat memilih skema kemitraan senilai US$ 10 miliar. Langkah ini menegaskan fokus SpaceX dalam memperkuat kapabilitas AI sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Baca Juga: Unit Sinopec Lepas Saham CATL Senilai US$ 770 Juta Kendali Voting Tetap di Tangan Musk Selain itu, SpaceX berencana memberikan saham dengan hak suara super (super-voting shares) kepada Musk dan sejumlah orang dalam perusahaan. Skema ini akan memastikan kendali tetap berada di tangan pendiri, bahkan setelah perusahaan melantai di bursa. Keuangan Tertekan, Belanja Melonjak Dari sisi kinerja, SpaceX mencatat pendapatan sebesar US$ 18,67 miliar pada 2025. Setelah merger dengan xAI, perusahaan memiliki kas sekitar US$ 24,8 miliar, aset US$ 92 miliar, dan liabilitas US$ 50,8 miliar. Belanja modal (
capital expenditure) melonjak hampir lima kali lipat dalam dua tahun terakhir menjadi US$ 20,74 miliar.
Baca Juga: Harga Minyak Berbalik Turun Rabu (22/4) Pagi: Brent ke US$ 98,27 & WTI ke US$ 89,39 Roadshow dan Tantangan Valuasi Untuk meyakinkan investor, SpaceX menggelar roadshow analis selama tiga hari di Wall Street guna mempertahankan target valuasi US$ 1,75 triliun. Namun, perusahaan juga mengingatkan investor bahwa sejumlah ambisi besar seperti pembangunan pusat data AI di luar angkasa hingga koloni manusia di Bulan dan Mars masih bergantung pada teknologi yang belum terbukti secara komersial. Potensi Cuan Besar untuk Eksekutif Dari sisi kompensasi, Musk hanya menerima gaji sebesar US$ 54.080 tahun lalu, namun berpotensi meraih keuntungan miliaran dolar dari kepemilikan saham pasca IPO. Presiden SpaceX Gwynne Shotwell tercatat, menerima kompensasi total US$ 85,8 juta, menjadikannya salah satu eksekutif dengan bayaran tertinggi di AS. Sementara CFO Bret Johnsen memperoleh US$ 9,8 juta.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Membayangi; Saham BHP Tahan Penurunan Investor Ritel Dapat Porsi Besar Menariknya, sekitar 30% saham dalam IPO akan dialokasikan untuk investor ritel. SpaceX juga mengundang sekitar 1.500 investor ritel untuk mengunjungi fasilitas peluncuran Starbase di Texas sebagai bagian dari strategi pemasaran. Akses investor ritel internasional akan dibuka untuk sejumlah wilayah, termasuk Inggris, Uni Eropa, Australia, Kanada, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, potensi IPO jumbo ini juga mendorong penyedia indeks seperti Morningstar mempertimbangkan perubahan metodologi agar perusahaan besar seperti SpaceX dapat lebih cepat masuk ke dalam indeks pasar.