KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun pada Rabu (16/9/2026), menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Penurunan yield terjadi setelah imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sempat menembus level 5% pada awal pekan. Melansir
Reuters, yield US Treasury 10 tahun terakhir turun 2,5 basis poin (bps) menjadi 4,971%. Sementara yield obligasi tenor 30 tahun turun 1,7 bps menjadi 5,346%.
Adapun yield Treasury 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed turun 3,6 bps menjadi 4,627%.
Baca Juga: Stok Minyak Mentah AS Turun, Tapi Persediaan Bensin dan Diesel Naik Pergerakan pasar obligasi berlangsung menjelang pengumuman keputusan kebijakan moneter The Fed pada Rabu sore waktu AS. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bps) untuk merespons tekanan inflasi yang masih tinggi. Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 bps mencapai sekitar 93%, meningkat dari sekitar 60% sepekan sebelumnya. Inflasi dan harga minyak jadi perhatian Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan yield US Treasury dalam beberapa hari terakhir. Harga minyak yang melonjak akibat konflik AS-Israel dengan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi.
Baca Juga: S&P 500 dan Nasdaq Naik Tipis di Tengah Penantian Keputusan The Fed Yield Treasury 10 tahun sempat menembus 5% pada Senin (14/9/2026), untuk pertama kalinya sejak 2023. Sehari kemudian, yield tersebut kembali mencatat level tertinggi sejak Juli 2007. Pada Rabu, harga minyak mulai turun setelah laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman. Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran mengenai skala gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Namun, data ekonomi terbaru AS masih menunjukkan tekanan harga sekaligus ketahanan permintaan. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel melonjak 1,2% pada Agustus 2026 setelah terkoreksi 0,5% pada Juli. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 0,8%. Di sisi lain, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga impor naik 0,7% pada Agustus setelah turun 0,3% selama dua bulan berturut-turut. Angka tersebut juga lebih tinggi dari proyeksi ekonom sebesar 0,4%. Chief US Economist Jefferies Tom Simons mengatakan data tersebut menunjukkan permintaan riil masih cukup baik, sementara kenaikan tingkat harga turut mendorong angka penjualan secara nominal. "Tidak ada yang kami lihat dalam data yang menunjukkan bahwa yield seharusnya turun secara signifikan," ujar Simons.
Baca Juga: Bursa Saham Turki Rontok Gara-Gara Ini, Sempat Dihentikan Sementara Pasar cermati arah kebijakan The Fed Dengan kenaikan suku bunga yang hampir sepenuhnya tercermin dalam harga pasar, perhatian investor beralih ke sinyal kebijakan moneter setelah keputusan diumumkan. Pasar akan mencermati bagaimana Ketua The Fed Kevin Warsh menjelaskan perubahan kebijakan moneter serta prospek inflasi dan suku bunga ke depan. Simons menilai ruang perubahan posisi investor sebelum keputusan The Fed relatif terbatas karena kenaikan suku bunga sudah banyak diperhitungkan oleh pasar. Di pasar obligasi, selisih yield Treasury 2 tahun dan 10 tahun berada di level positif 34,2 bps. Kurva yield tersebut kerap digunakan investor untuk membaca ekspektasi terhadap kondisi ekonomi.
Sementara itu, tingkat breakeven Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) lima tahun berada di 2,395%.
Baca Juga: Harga Impor AS Melonjak 0,7% pada Agustus, Inflasi Makin Tertekan Breakeven TIPS 10 tahun tercatat 2,368%, yang menunjukkan pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,4% per tahun dalam satu dekade mendatang. Pergerakan yield US Treasury selanjutnya akan sangat bergantung pada keputusan The Fed dan komunikasi bank sentral mengenai arah kebijakan moneter di tengah kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.