Jelang Lebaran, Permintaan Kredit di LKM BKD Ponorogo Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menyebut tren penyaluran pembiayaan pada Ramadan cenderung meningkat.

Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego mengatakan peningkatan itu dipicu meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk modal usaha mereka.

"Didorong kebutuhan untuk modal usaha sektor tertentu, seperti usaha warung makan, toko roti, bakul buah, bakul baju, dan lainnya," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (3/3).


Baca Juga: Adira Finance (ADMF) Catatkan Laba Rp 1,54 Triliun pada 2025

Mego mengatakan tren meningkatnya permintaan pembiayaan pada momen Ramadan diperkirakan tetap berlanjut menjelang Lebaran. Mengingat, banyaknya masyarakat yang membutuhkan pembiayaan untuk keperluan konsumtif.

"Menjelang Lebaran juga diperkirakan meningkat, dipicu meningkatnya kebutuhan konsumtif masyarakat," ucapnya.

Lebih lanjut, Mego menyebut LKM BKD Ponorogo juga melakukan langkah antisipasi agar tingkat kredit macet tak membengkak karena adanya peningkatan permintaan pembiayaan saat Ramadan dan Lebaran. Dia bilang pihaknya senantiasa melakukan prosedur analisis kredit yang lebih hati-hati. 

"Dalam waktu dekat, kami juga akan bekerja sama dengan vendor penyedia credit scoring," tuturnya.

Secara keseluruhan, Mego mengungkapkan LKM BKD Ponorogo telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 55,2 miliar per akhir 2025. Untuk 2026, dia mengatakan LKM BKD Ponorogo menargetkan penyaluran pembiayaan bisa tumbuh sebesar 5%. 

Baca Juga: Dapen BCA Fokus Jaga Stabilitas Portofolio di Tengah Tekanan Global

Untuk mencapai target itu, Mego menyebut pihaknya akan menerapkan sejumlah strategi. Salah satunya, yakni menambah pekerja bagian pemasaran, membuka kantor cabang baru, serta memetakan target yang lebih menantang dan pemberian insentif kepada pekerja.

Mego juga menilai prospek industri LKM pada tahun ini masih menjanjikan. Meskipun demikian, dia berpendapat bisnis LKM juga akan dihadapkan dengan persaingan yang makin berat.

"Artinya, industri memiliki daya saing kuat. Dengan demikian, yang kuat akan bertahan dan berkembang," ujarnya.

Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pinjaman LKM per Desember 2025 mencapai Rp 0,96 triliun atau Rp 960 miliar. Jika ditelaah nilainya terkontraksi 7,69%, dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp 1,04 triliun.

OJK mencatat, nilai aset LKM per Desember 2025 mencapai Rp 1,58 triliun. Sejalan dengan kinerja pinjaman, aset LKM per Desember 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 6,51%, jika dibandingkan posisi per Desember 2024 yang sebesar Rp 1,69 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News