KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan emas diproyeksi meningkat menjelang Idul Fitri. Hal ini salah satunya karena adanya pendapatan tambahan dari Tunjangan Hari Raya (THR). Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) & Global Head of Central Banks di World Gold Council (WGC), mengatakan, memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri, minat masyarakat Indonesia terhadap emas cenderung meningkat. Kenaikan ini bukan sekadar spekulasi, melainkan cerminan peran emas dalam perencanaan keuangan rumah tangga.
Di Indonesia, emas juga berperan menggabungkan nilai budaya, likuiditas, dan perlindungan kekayaan jangka panjang, menjadikannya semakin relevan terutama di tengah perputaran arus kas musiman.
Baca Juga: Prospek ASII 2026 Moderat, Pemulihan Harga Batubara Bisa Jadi Katalis Menurutnya, momentum bulan Ramadan dan Idul Fitri turut memengaruhi dinamika likuiditas rumah tangga dalam periode yang relatif singkat. “Saat mendapatkan tambahan pendapatan musiman, seperti Tunjangan Hari Raya (THR), sebagian masyarakat mengalokasikannya ke aset yang dinilai mampu melindungi nilai jangka panjang, termasuk emas,” ujar Shaokai dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026). Selain faktor likuiditas, Shaokai menilai konteks budaya dan tren musiman juga turut berperan membentuk dinamika pasar. Di Indonesia, Ramadan dan Idul Fitri kerap menjadi periode meningkatnya aktivitas perdagangan emas, yang mencerminkan kombinasi antara perencanaan keuangan sekaligus kedekatan budaya masyarakat dengan emas. Meski keputusan investasi ini hanya terjadi musiman, Shaokai melihat motivasi di baliknya tetaplah untuk jangka panjang. Pandangan ini sejalan dengan temuan survei yang menunjukkan bahwa investor Indonesia biasanya menyimpan emas fisik dalam jangka waktu sekitar enam tahun. Hal ini menegaskan peran emas sebagai instrumen perlindungan dan perencanaan jangka panjang, bukan sekadar instrumen perdagangan jangka pendek. Pola musiman serupa juga terlihat di pasar emas besar lainnya. Di Tiongkok, permintaan emas biasanya meningkat menjelang Tahun Baru Imlek yang lekat dengan tradisi pemberian hadiah serta simbolisasi kemakmuran dan keberuntungan. Sementara itu, di India, lonjakan pembelian emas umumnya terjadi menjelang musim pernikahan, ketika emas berperan penting dalam rangkaian perayaan tradisi maupun perencanaan keuangan keluarga.
Baca Juga: Rating Adhi Karya (ADHI) idA-, Prospek Direvisi Jadi CreditWatch Berimplikasi Negatif “Pola musiman ini menegaskan peran emas yang lebih luas dalam portofolio rumah tangga. Di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan tekanan daya beli, emas kerap dipandang sebagai instrumen yang mampu melindungi nilai jangka panjang,” jelas Shaokai. Selain itu, temuan dalam Laporan Analisis Wawasan Konsumen Indonesia menunjukkan bahwa emas menjadi aset yang paling banyak dimiliki oleh investor Indonesia setelah tabungan.
Banyak investor memprioritaskan keamanan dan stabilitas jangka panjang dalam keputusan investasinya, menegaskan posisi emas sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga stabilitas kekayaan rumah tangga. Dalam periode hari raya, produsen dan peritel lokal juga seringkali meluncurkan produk emas edisi khusus yang menarik bagi investor maupun para pembeli hadiah. Inisiatif semacam ini menunjukkan pasar emas di Indonesia yang dinamis dan responsif terhadap konteks budaya. “Produk bertema khusus ini juga berpotensi memperluas permintaan di luar investor tradisional, karena keputusan pembelian tidak hanya didorong oleh pertimbangan finansial, tetapi juga oleh nilai simbolis dan emosional,” pungkas Shaokai. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News