KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan aksi ambil untung (profit taking) menjelang periode libur panjang Lebaran. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang masih diliputi ketidakpastian. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan aksi profit taking menjelang libur panjang merupakan fenomena yang umum terjadi karena sebagian investor memilih mengurangi eksposur risiko dan meningkatkan posisi kas saat pasar tutup dalam waktu relatif lama. Namun untuk tahun ini, ia menilai tekanan jual berpotensi lebih besar dibandingkan periode libur panjang sebelumnya.
“Hal ini karena IHSG sudah berada dalam fase pelemahan sejak akhir Januari pasca sentimen terkait MSCI serta meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran,” kata David kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok 3,27% ke 7.337 pada Senin (9/3), PGAS, MBMA, JPFA Top Losers LQ45 Menurutnya, kombinasi faktor domestik dan global tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati sehingga kecenderungan melakukan profit taking atau mengurangi posisi menjadi lebih besar. Ia menambahkan, dengan kondisi IHSG yang telah terkoreksi cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat melemah lebih dari 7% dalam sepekan, tekanan jual masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Penurunan kapitalisasi pasar yang cukup signifikan juga mencerminkan bahwa sentimen investor masih cenderung defensif. “Selama faktor eksternal seperti sentimen global, geopolitik, serta persepsi investor asing terhadap pasar Indonesia belum menunjukkan perbaikan yang berarti, maka kecenderungan aksi jual menjelang libur panjang tetap berpotensi terjadi,” jelasnya. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, turut meningkatkan sentimen risk-off di pasar keuangan. Dalam kondisi tersebut, psikologi investor cenderung lebih defensif dengan meningkatkan porsi kas untuk mengantisipasi potensi volatilitas selama periode pasar tutup. “Sebagian investor memilih mengurangi eksposur risiko dan meningkatkan porsi kas untuk mengantisipasi potensi volatilitas selama pasar tutup,” katanya.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, IHSG Berpotensi Tertekan David memproyeksikan hingga akhir Maret pergerakan IHSG kemungkinan masih berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang relatif tinggi. Tanpa adanya katalis positif yang kuat, ruang penguatan IHSG dinilai masih terbatas. Meski demikian, koreksi yang telah terjadi membuat sebagian saham mulai diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik. “Potensi technical rebound tetap terbuka jika tekanan sentimen global mulai mereda,” tambahnya. Dalam kondisi pasar yang masih volatil, David menyarankan investor untuk menerapkan pendekatan wait and see sambil tetap menjaga manajemen risiko.
Investor juga dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap pada sektor yang berpotensi diuntungkan dari kondisi global saat ini, seperti sektor energi dan komoditas, khususnya migas dan batubara yang berpotensi mendapat dorongan dari kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik. Namun ia mengingatkan strategi pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan tetap disiplin terhadap rencana investasi serta memperhatikan perkembangan sentimen global yang dapat mempengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.
Baca Juga: Rupiah Capai Rp 17.000 dan IHSG Anjlok, Analis Menyoroti Efeknya ke Fiskal Pemerintah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News