KONTAN.CO.ID - Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot, muncul sebagai penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan paling lambat berlangsung pada akhir Oktober 2026. Sejumlah survei menunjukkan partai baru yang dipimpin Eisenkot, Yashar, mengalami kenaikan dukungan dan berpotensi mengakhiri dominasi politik Netanyahu yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat ke US$ 13.308 Jumat (26/6), Ditopang Pelemahan Dolar Meski Partai Likud yang dipimpin Netanyahu masih diproyeksikan menjadi peraih kursi terbanyak di parlemen, hasil jajak pendapat menunjukkan baik Likud maupun Yashar belum mampu meraih mayoritas sehingga pembentukan koalisi diperkirakan menjadi penentu pemerintahan berikutnya. Partai Yashar, yang dalam bahasa Ibrani berarti "lurus" atau "jujur", dinilai memiliki peluang lebih besar membangun koalisi karena lebih terbuka bekerja sama dengan berbagai partai di spektrum politik Israel. Pemilu mendatang akan menjadi pemungutan suara nasional pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terjun Bebas: Ambles 9% di Pekan Ini Tetap mengusung pendekatan keamanan yang keras Meski menjadi rival politik Netanyahu, Eisenkot tidak dipandang akan membawa perubahan besar terhadap kebijakan keamanan Israel. Mantan anggota kabinet perang tersebut dikenal memiliki pandangan keamanan yang tegas. Ia pernah mengkritik Netanyahu karena dinilai terlalu cepat menyetujui gencatan senjata di Lebanon atas dorongan Amerika Serikat. Eisenkot juga menolak pembentukan negara Palestina dalam kondisi saat ini dan menilai isu tersebut tidak lagi relevan. Saat memimpin operasi militer dalam perang Israel-Hezbollah pada 2006, Eisenkot memperkenalkan strategi yang kemudian dikenal sebagai "Doktrin Dahiyeh", yakni penggunaan kekuatan militer secara besar-besaran terhadap wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata, termasuk dengan menghancurkan infrastruktur sipil yang dianggap mendukung operasi militan. Dalam sebuah konferensi pekan ini, Eisenkot mengatakan strategi tersebut diterapkan melalui serangan yang disebutnya sendiri sebagai "tidak proporsional" terhadap kawasan Dahiyeh di Beirut selatan, yang merupakan basis Hezbollah. Ia juga menilai militer Israel seharusnya memiliki keleluasaan menyerang Hezbollah di seluruh wilayah Lebanon dan menyebut gencatan senjata yang didorong Presiden AS Donald Trump telah membatasi ruang gerak militer Israel.
Baca Juga: Swatch Gugat Samsung US$ 170 Juta, Diduga Langgar Merek Dagang Jam Tangan Latar belakang sederhana menjadi modal politik Eisenkot, 66 tahun, merupakan putra imigran Yahudi asal Maroko dan tumbuh dari keluarga sederhana. Latar belakang tersebut membuatnya mulai mendapat dukungan dari komunitas Yahudi Mizrahi, kelompok keturunan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini menjadi basis utama pemilih Netanyahu. Karier militernya berlangsung lebih dari tiga dekade hingga menjabat Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel pada periode 2015–2019. Popularitas Eisenkot juga meningkat setelah putranya, Gal Meir Eisenkot, gugur saat bertugas di Gaza pada Desember 2023. Dua keponakannya juga tewas dalam konflik tersebut, menjadikan pengorbanan keluarganya sebagai simbol yang mendapat simpati luas di tengah masyarakat Israel. Pengamat politik dari Bar-Ilan University Eitan Shamir menilai, Eisenkot dipandang sebagai sosok yang sederhana dan mudah diterima publik. "Ia terlihat sebagai sosok yang tulus, bukan politisi profesional. Banyak orang merasa ia seperti tetangga atau rekan kerja mereka sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru Meski demikian, kubu Netanyahu mempertanyakan kemampuan diplomasi Eisenkot, termasuk penguasaan bahasa Inggris yang dinilai penting untuk menjaga hubungan strategis Israel dengan negara-negara Barat. Di tengah meningkatnya dukungan terhadap Eisenkot, sejumlah analis mengingatkan bahwa Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan. Peneliti senior Israel Democracy Institute, Tamar Hermann, menyebut Netanyahu sebagai "pesulap politik" yang berkali-kali mampu keluar dari situasi sulit dan membalikkan keadaan menjelang pemilu.